Sekitarbandung.com – Joko Widodo atau Jokowi merupakan Presiden Republik Indonesia ketujuh yang memimpin Indonesia selama dua periode, sejak 2014 hingga 2024.
Ia dikenal sebagai presiden dengan latar belakang non-elite politik dan militer, yang naik ke tampuk kekuasaan berkat citra sederhana, merakyat, dan dekat dengan masyarakat kecil.
Jokowi mengawali karier politik sebagai Wali Kota Solo, lalu menjabat Gubernur DKI Jakarta, sebelum akhirnya terpilih sebagai presiden.
Kehadirannya saat itu dianggap sebagai simbol harapan baru bagi demokrasi Indonesia, karena dinilai mampu mematahkan dominasi elite lama dan membawa pendekatan kepemimpinan yang lebih membumi.
Selama masa kepemimpinannya, Jokowi fokus pada pembangunan infrastruktur secara masif. Jalan tol, bandara, pelabuhan, dan bendungan dibangun di berbagai daerah dengan tujuan mendorong pemerataan ekonomi dan konektivitas nasional.
Kebijakan ini dipuji karena mempercepat pembangunan, namun juga dikritik karena dinilai membebani keuangan negara dan kurang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat kecil dalam jangka pendek.
Di bidang ekonomi dan sosial, Jokowi melanjutkan serta memperluas berbagai program bantuan sosial, seperti Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan bantuan langsung tunai.
Baca Juga: Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Dua Periode yang Membawa Stabilitas dan Citra Demokrasi
Program-program ini membantu masyarakat rentan, namun kerap menuai kritik terkait ketepatan sasaran dan ketergantungan bantuan.
Kepemimpinan Jokowi juga diwarnai berbagai kontroversi. Mulai dari pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), penggunaan aparat dalam merespons kritik publik, hingga isu demokrasi yang dinilai mengalami kemunduran.
Selain itu, kebijakan Undang-Undang Cipta Kerja dan dinamika politik menjelang akhir masa jabatannya memicu gelombang protes dari mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.
Meski demikian, Jokowi tetap memiliki basis pendukung yang kuat. Ia dinilai berhasil menjaga stabilitas politik dan ekonomi nasional di tengah berbagai krisis global, termasuk pandemi Covid-19.
Penanganan pandemi menjadi salah satu ujian terberat pemerintahannya, dengan kebijakan yang dinilai adaptif namun juga tidak lepas dari kritik.
Joko Widodo mengakhiri masa kepresidenannya sebagai figur yang kompleks: dipuji karena kerja nyata dan pembangunan fisik, namun juga dikritik karena dinilai mengorbankan kualitas demokrasi.
Warisan kepemimpinannya akan terus menjadi perdebatan dalam sejarah Indonesia, sebagai presiden yang lahir dari rakyat, tetapi memimpin di tengah tarik-menarik kepentingan kekuasaan yang besar.
Baca Juga: Megawati Soekarnoputri, Presiden Perempuan Pertama Indonesia di Tengah Masa Transisi Bangsa

