Sekitarbandung.com – Whatabout-ism kerap muncul di ruang digital sebagai cara untuk mengalihkan isu tanpa benar-benar menyelesaikan masalah utama. Pola ini sering membuat diskusi menjadi buntu dan menjauh dari solusi yang seharusnya dibahas bersama.
Whatabout-ism sendiri merupakan cara berargumen dengan mengalihkan kritik ke isu lain, alih-alih menjawab persoalan utama yang sedang dibicarakan. Pola ini biasanya ditandai dengan kalimat seperti, “Ya tapi bagaimana dengan…?”.
Alhasil, diskusi tidak menghasilkan solusi, melainkan sekadar pengalihan fokus. Kurang lebih, kritik awal mengenai suatu persoalan, misalnya soal keamanan, tidak dijawab, tetapi justru dialihkan ke kesalahan pihak lain.
Agar diskusi tetap berjalan sehat dan produktif, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
- Tarik kembali pembahasan ke topik utama
- Akui adanya isu lain, tetapi bahas satu per satu
- Fokus pada solusi, bukan sekadar pembelaan
- Jika pengalihan terus terjadi, hentikan debat
Baca Juga: Mengapa Angka 46 Identik dengan Valentino Rossi? Simak Penjelasannya Berikut Ini!
Sementara itu, terdapat sejumlah alasan mengapa Whatabout-ism cukup laku di media sosial, di antaranya sebagai berikut:
- Lebih mudah menyerang balik daripada mengakui masalah
- Dipicu oleh emosi dan fanatisme di ruang digital
- Algoritma media sosial cenderung menyukai konflik
- Digunakan untuk membela identitas, bukan mencari kebenaran
Oleh karena itu, Diskominfo Jawa Barat melalui unggahan akun Instagram @diskominfojabar pada Selasa (23/12/2025), mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan literasi digital dan membangun budaya diskusi yang sehat.
“Yuk tingkatkan literasi digital dan berdiskusi sehat bersama Minfo!” tulisnya dalam caption.

