Sekitarbandung.com – Tragedi Romusha menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah pendudukan Jepang di Asia Tenggara pada masa Perang Dunia II.
Ribuan pekerja paksa, termasuk dari Indonesia, dipaksa membangun Jalur Kereta Burma–Siam yang kemudian dikenal sebagai Jalur Kereta Maut karena tingginya angka kematian.
Jalur kereta sepanjang sekitar 415 kilometer tersebut dibangun pada tahun 1942–1943 untuk menghubungkan Thailand dan Myanmar (Burma).
Jepang memanfaatkan jalur ini sebagai sarana logistik militer, terutama untuk mendukung pergerakan pasukan di medan perang Asia Tenggara.
Dalam proses pembangunannya, Jepang mempekerjakan puluhan ribu romusha dan tawanan perang Sekutu.
Para romusha direkrut secara paksa dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa, dengan iming-iming pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik, namun kenyataannya jauh dari harapan.
Para pekerja paksa dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi sepanjang hari. Jam kerja yang panjang mencapai belasan jam dijalani dengan peralatan seadanya dan asupan makanan yang sangat minim.
Baca Juga: Tragedi 57 Detik yang Merenggut Ribuan Nyawa dalam Gempa Yogyakarta
Tidak adanya perawatan kesehatan yang layak membuat tubuh para romusha kian melemah dari hari ke hari. Penyakit menular seperti malaria, kolera, dan disentri merebak di kamp-kamp kerja, memperparah penderitaan dan meningkatkan angka kematian.
Kekerasan fisik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para romusha. Tentara Jepang kerap melakukan pemukulan, ancaman, hingga hukuman berat terhadap pekerja yang dianggap lambat atau melanggar perintah.
Perlakuan kejam tersebut menimbulkan rasa takut dan tekanan mental yang mendalam. Banyak romusha akhirnya meregang nyawa akibat kelelahan ekstrem, kelaparan, penyakit, maupun kekerasan yang terus-menerus dialami.
Diperkirakan puluhan ribu nyawa melayang dalam proyek pembangunan Jalur Kereta Burma–Siam, termasuk ribuan romusha asal Indonesia yang tak pernah kembali ke tanah air.
Sebagian besar dari mereka bahkan tidak memiliki makam yang layak, karena jenazah dikuburkan secara massal di sekitar lokasi kerja.
Hingga kini, Jalur Kereta Maut menjadi simbol penderitaan dan kekejaman perang, sekaligus pengingat akan praktik kerja paksa yang merampas hak asasi manusia.
Tragedi romusha di jalur ini juga menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia yang perlu terus dikenang agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Ratusan Suporter Tewas Akibat Kerumunan di Stadion

