Sekitarbandung.com – Pagi itu, Sabtu 27 Mei 2006, Yogyakarta dan sekitarnya seolah terbangun dalam kepanikan massal.
Dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekitar 57 detik, gempa bumi dahsyat mengubah kehidupan ribuan orang dan meninggalkan luka mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.
Gempa berkekuatan 6,3 skala Richter tersebut terjadi sekitar pukul 05.54 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap atau baru bersiap memulai aktivitas pagi.
Getaran kuat mengguncang wilayah Bantul, Sleman, Kota Yogyakarta, hingga sebagian Jawa Tengah, membuat bangunan runtuh dalam hitungan detik.
Akibat gempa tersebut, lebih dari 6.000 orang meninggal dunia, puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka, dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.
Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan dampak terparah, di mana rumah-rumah roboh menimpa penghuninya tanpa sempat memberi kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Tangisan dan teriakan minta tolong menyelimuti pagi Yogyakarta yang dilanda kepanikan. Banyak korban terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang roboh akibat gempa.
Warga sekitar berupaya mengevakuasi korban dengan peralatan seadanya di tengah keterbatasan. Rumah sakit kewalahan menampung korban hingga halaman dan lorong dipenuhi pasien.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Ratusan Suporter Tewas Akibat Kerumunan di Stadion
Selain menelan korban jiwa, gempa ini juga melumpuhkan infrastruktur di berbagai wilayah. Ribuan bangunan mengalami kerusakan berat, termasuk sekolah, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, dan situs budaya.
Aktivitas masyarakat terhenti total akibat kondisi yang tidak memungkinkan. Listrik padam dan jaringan komunikasi terputus di banyak daerah.
Meski hanya berlangsung kurang dari satu menit atau sekitar 57 detik, gempa Yogyakarta meninggalkan dampak jangka panjang. Banyak penyintas kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian.
Sebagian dari mereka hidup di pengungsian selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Di tengah keterbatasan, para penyintas berjuang memulihkan trauma dan membangun kembali kehidupan dari nol.
Hingga kini, peristiwa tersebut tetap dikenang sebagai tragedi 57 detik yang merenggut ribuan nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia.
Baca Juga: Tragedi Mina 2015, Ribuan Jemaah Haji Wafat dalam Insiden Kerumunan di Arab Saudi

