Sekitarbandung.com – Tragedi jatuhnya pesawat uji coba Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) asal Rusia menjadi salah satu kecelakaan penerbangan paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
Peristiwa ini terjadi saat pesawat tengah melakukan penerbangan demonstrasi yang seharusnya menjadi ajang promosi teknologi penerbangan sipil Rusia di kawasan Asia.
Pesawat Sukhoi Superjet 100 mengalami kecelakaan pada 9 Mei 2012 saat melakukan penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Penerbangan tersebut merupakan bagian dari tur promosi ke sejumlah negara Asia, dengan tujuan memperkenalkan pesawat regional buatan Rusia kepada calon pembeli dan mitra bisnis.
Dalam penerbangan itu, pesawat membawa 45 orang, yang terdiri dari awak pesawat, perwakilan perusahaan, calon konsumen, serta jurnalis. Setelah lepas landas, pesawat sempat melakukan manuver di sekitar wilayah Bogor.
Namun, beberapa saat kemudian, pesawat hilang dari radar dan diketahui menabrak Gunung Salak, Jawa Barat.
Baca Juga: Tragedi Pesawat Garuda Indonesia 7 Maret 2007, Ego Pilot yang Menolak Go Around Berujung Fatal
Proses pencarian berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Medan Gunung Salak yang terjal, cuaca buruk, serta kabut tebal menyulitkan tim SAR dalam menemukan lokasi jatuhnya pesawat.
Setelah upaya pencarian intensif, puing-puing pesawat akhirnya ditemukan di lereng gunung pada ketinggian sekitar 5.200 kaki di atas permukaan laut.
Seluruh penumpang dan awak pesawat dinyatakan meninggal dunia dalam tragedi tersebut. Investigasi mengungkap bahwa kecelakaan terjadi akibat controlled flight into terrain (CFIT), yakni kondisi ketika pesawat yang masih dalam kendali pilot menabrak medan akibat kesalahan persepsi dan kurangnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.
Tragedi Sukhoi Superjet 100 menjadi pukulan besar bagi industri penerbangan Rusia, sekaligus meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Peristiwa ini juga menjadi pelajaran penting bagi dunia penerbangan internasional tentang pentingnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, kesadaran situasional pilot, serta kewaspadaan dalam penerbangan demonstrasi.
Hingga kini, tragedi pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak tetap dikenang sebagai pengingat bahwa kemajuan teknologi penerbangan harus selalu diiringi dengan disiplin keselamatan yang ketat, demi mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
Baca Juga: Tragedi Pesawat AirAsia QZ8501, Pesawat Jatuh di Laut Jawa pada 28 Desember 2014

