Sekitarbandung.com – Tragedi jatuhnya pesawat Trigana Air ATR 42 dengan nomor registrasi IL-267 menjadi salah satu kecelakaan penerbangan paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
Insiden ini terjadi pada 16 Agustus 2015, tepat sehari sebelum Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-70 kemerdekaan.
Pesawat tersebut diketahui mengangkut 54 orang yang terdiri dari 49 penumpang dan 5 awak kru. Trigana Air ATR 42 IL-267 lepas landas dari Bandara Sentani, Jayapura, dengan tujuan Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
Penerbangan ini merupakan rute perintis yang kerap melayani wilayah pedalaman dengan medan ekstrem.
Dalam penerbangan tersebut, pesawat juga membawa dana sebesar Rp6,5 miliar. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk penyaluran bantuan sosial bagi warga di wilayah Oksibil.
Saat itu, masyarakat setempat sangat bergantung pada distribusi logistik dan bantuan melalui jalur udara.
Namun, sekitar beberapa menit sebelum mendarat, kontak antara pesawat dan petugas lalu lintas udara terputus.
Setelah dilakukan pencarian intensif, puing-puing pesawat akhirnya ditemukan di kawasan pegunungan Bintang, Papua. Pesawat diketahui hancur setelah menabrak tebing curam di wilayah yang sulit dijangkau, dengan kondisi badan pesawat rusak parah.
Seluruh penumpang dan awak kru dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Cuaca buruk, medan pegunungan yang ekstrem, serta jarak pandang yang terbatas diduga kuat menjadi faktor utama penyebab kecelakaan.
Meski demikian, pihak berwenang tetap melakukan investigasi resmi guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Tragedi Trigana Air ATR 42 IL-267 meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Indonesia.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat keras akan tingginya risiko penerbangan perintis di wilayah terpencil, sekaligus momen refleksi nasional yang terjadi tepat di ambang perayaan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga: Tragedi Hilangnya Pesawat Boeing 777-200ER yang Membawa 239 Nyawa

