Sekitarbandung.com – Dunia penerbangan internasional diguncang oleh sebuah tragedi besar pada 8 Maret 2014, ketika pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 dinyatakan hilang dari radar.
Pesawat jenis Boeing 777-200ER itu lepas landas dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Beijing, China, sebelum akhirnya lenyap tanpa jejak.
Pesawat tersebut mengangkut total 239 nyawa, terdiri dari penumpang dan awak kabin dari berbagai negara.
Di dalam kabin, ratusan orang memulai perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas biasa, namun berujung menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah penerbangan modern.
Kontak terakhir antara kokpit dan menara pengawas terjadi tak lama setelah pesawat meninggalkan wilayah udara Malaysia.
Baca Juga: Tragedi Pesawat SilkAir 19 Desember 1997, Liburan Berujung Maut dan 104 Nyawa Hilang Seketika
Dalam komunikasi terakhirnya, pilot pesawat menyampaikan kalimat singkat namun kini dikenang dunia, yakni “good night”, sebelum pesawat menghilang dari radar sipil dan militer.
Sejak saat itu, berbagai spekulasi dan teori bermunculan, mulai dari kegagalan teknis, pembajakan, hingga dugaan kesengajaan.
Operasi pencarian besar-besaran melibatkan banyak negara dan berlangsung bertahun-tahun, namun hingga kini, bangkai pesawat MH370 belum pernah ditemukan secara utuh.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban yang hingga hari ini masih menunggu kepastian. Tanpa makam, tanpa jawaban pasti, hanya kenangan dan harapan yang terus bertahan di tengah ketidakjelasan.
Hilangnya MH370 bukan sekadar kecelakaan penerbangan, melainkan simbol dari betapa rapuhnya manusia di hadapan teknologi dan alam.
Kalimat “good night” yang diucapkan pilot pada malam itu pun menjadi salam perpisahan terakhir bagi 239 nyawa yang tak pernah kembali.
Baca Juga: Kisah Pilu Istri dan Anak Mayor Tertimpa Pesawat di Ruang Tamu, Maut Datang dari Atas

