Sekitarbandung.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan sejak memasuki awal tahun 2026, mencerminkan tekanan dari sentimen global dan faktor domestik di tengah kondisi perekonomian dunia dan Indonesia.
Menurut laporan terbaru, rupiah sempat menyentuh level terlemah dalam beberapa tahun terakhir di kisaran Rp16.900-an per dolar AS, bahkan hampir mendekati angka psikologis Rp17.000.
Pelemahan ini terjadi meskipun dolar AS secara global mengalami tekanan, menandakan rupiah berada di bawah tekanan pasar yang lebih kuat.
Bank Indonesia mencatat bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh aliran modal asing yang keluar serta meningkatnya permintaan valuta asing domestik, khususnya dari perbankan dan korporasi.
Intervensi pasar melalui transaksi spot dan forward serta pengelolaan cadangan devisa terus dilakukan untuk menahan volatilitas nilai tukar.
Pelemahan kurs ini juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal dan independensi bank sentral.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadan, DKPP Kota Bandung Perkuat Neraca Pangan 2026
Isu terkait proses penunjukan pejabat tinggi di Bank Indonesia memicu kekhawatiran bahwa arah kebijakan moneter bisa berubah, sehingga menekan kepercayaan pasar.
Selain itu, data perdagangan menunjukkan bahwa sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026, rupiah secara kumulatif melemah lebih dari 1 persen terhadap dolar AS.
Pelemahan tersebut sejalan dengan tekanan pada sejumlah mata uang regional yang dipicu oleh kuatnya data ekonomi Amerika Serikat serta ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia memilih mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan terakhirnya untuk membantu menstabilkan nilai tukar, sambil memperhatikan pertumbuhan ekonomi dan pergerakan inflasi domestik.
Analis pasar mencatat bahwa meskipun ada tekanan jangka pendek pada nilai tukar, beberapa faktor seperti cadangan devisa yang kuat dan intervensi strategis BI dapat memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah dalam jangka menengah.
Dengan tren pelemahan yang masih berlangsung di awal tahun ini, para pelaku pasar dan investor akan terus memantau kebijakan moneter domestik serta indikator ekonomi global yang dapat memengaruhi arah kurs rupiah ke depan.
Baca Juga: Tukar Uang Rupiah Kertas ke Yen, Cowok Ini Kaget Karena Hasilnya Jadi Uang Recehan

