Sekitarbandung.com – Siapa yang bisa menyangka bahwa kisah cinta paling legendaris ini bermula dari ejekan. Saat remaja, Habibie pernah mengejek Hasri Ainun Besari sebagai “Gula Jawa” (hitam manis).
Namun, waktu mengubah segalanya. Saat bertemu kembali di Bandung bertahun-tahun kemudian, Habibie terpanana.
“Gula Jawa” itu kini telah berubah menjadi “Gula Pasir” yang putih dan mempesona. Cinta pun bersemi.
Tanpa bergelimang harta, mereka menikah pada 12 Mei 1962. Habibie langsung memboyong Ainun ke Jerman. Masa awal pernikahan mereka sangat keras. Habibie bekerja larut malam di konstruksi gerbong kereta untuk membiayai kuliah S3-nya.
Saking sibuk dan sulitnya, Habibie pernah berkelakar bahwa “bulan madu” mereka sering dihabiskan di laboratorium atau perpustakaan sunyi yang dinginnya seperti kamar mayat.
Di Jerman, hidup mereka pas-pasan. Habibie hanya punya satu pasang sepatu musim dingin. Ainun adalah sosok pahlawan tanpa jubah di masa ini. Sebagai dokter, ia rela tidak bekerja demi mengurus keluarga.
Untuk menghemat uang, Ainun menjahit sendiri baju-baju Habibie, menambal yang sobek, dan mengatur keuangan dengan sangat ketat agar suaminya bisa fokus meraih gelar Doktor.
Karier Habibie melesat. Ia menjadi jenius aeronautika yang diakui dunia (Mr. Crack). Ia dipanggil pulang membangun Indonesia, jadi Menteri, Wakil Presiden, hingga Presiden.
Di tengah badai politik dan fitnah yang menghantam Habibie, Ainun selalu berdiri di sana. Diam, tenang, dan meneduhkan. Habibie pernah berkata: “Ainun, matamu adalah mataku. Kakimu adalah kakiku.”
Tahun 2010 merupakan tahun terberat. Ainun didiagnosis kanker ovarium stadium lanjut. Habibie hancur. Orang paling jenius di Indonesia itu merasa tak berdaya.
Baca Juga: Kisah Cinta B.J. Habibie dan Ainun, Setia dalam Suka dan Duka Hingga Akhir Hayat
Selama Ainun dirawat di Jerman, Habibie tidak pernah meninggalkan sisi tempat tidurnya. Ia tidur di kursi, membacakan doa, dan terus menggenggam tangan istri tercintanya.
Ainun mengembuskan napas terakhir pada 22 Mei 2010. Habibie meraung dalam tangis. Separuh jiwanya pergi.
Setelah kepergian Ainun, Habibie mengalami psychosomatic malignant. Ia sakit parah karena kesedihan yang mendalam.
Dokter menyarankannya menulis sebagai terapi. Maka lahirlah buku “Habibie & Ainun”, surat cinta terakhir untuk sang istri.
Sejak Ainun wafat, Habibie punya kebiasaan rutin. Setiap hari Jumat, ia mengunjungi makam Ainun di TMP Kalibata.
Selalu ada bunga sedap malam kesukaan Ainun. Habibie juga sudah memesan kavling tanah kosong tepat di sebelah makam Ainun.
“Saya buat persyaratan, saya mau dimakamkan di sebelah istri saya. Kalau tidak, saya tidak mau dimakamkan di TMP,” tegasnya.
Indonesia menangis pada 11 September 2019. Tapi mungkin di alam sana, Pak Habibie sedang tersenyum lebar, karena setelah 9 tahun menahan rindu sendirian, setelah ribuan doa yang ia bisikkan di nisan Ibu Ainun setiap hari Jumat.
Akhirnya, penantian panjang sang “Mr. Crack” usai sudah. Selamat jalan, Eyang. Titip salam rindu kami untuk Ibu Ainun. Kini kalian bisa bergandengan tangan lagi, selamanya.

