Dipenjara Dua Tahun di Jeruji Besi oleh Sahabat Sendiri, Buya Hamka Justru Mengimami Shalat Jenazah Orang yang Menghukumnya

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1964, seorang kakek tua ditangkap paksa dari rumahnya karena dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno serta dituding sebagai antek Malaysia. Tuduhan

Dicky Wicaksono

Dipenjara Dua Tahun di Jeruji Besi oleh Sahabat Sendiri, Buya Hamka Justru Mengimami Shalat Jenazah Orang yang Menghukumnya
Dipenjara Dua Tahun di Jeruji Besi oleh Sahabat Sendiri, Buya Hamka Justru Mengimami Shalat Jenazah Orang yang Menghukumnya

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1964, seorang kakek tua ditangkap paksa dari rumahnya karena dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno serta dituding sebagai antek Malaysia.

Tuduhan tersebut sangat keji dan tidak pernah terbukti di pengadilan. Kakek itu adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka.

Fakta pahitnya, yang memerintahkan penangkapan tersebut adalah Soekarno. Padahal, Hamka dan Soekarno dulunya adalah sahabat dekat.

Mereka berdua sama-sama pejuang kemerdekaan Indonesia. Namun, politik memisahkan mereka. Kritik Hamka dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan.

Di penjara, Hamka tidak disiksa secara fisik, tetapi batinnya dihancurkan. Buku-bukunya dilarang beredar dan nama baiknya dirusak.

Ia diisolasi dari dunia luar dan keluarganya. Bagi seorang ulama dan sastrawan, dipisahkan dari pena dan umat adalah siksaan terberat dalam hidup.

Apakah Hamka depresi? Awalnya iya. Namun, ia segera bangkit dan menganggap penjara sebagai “tempat khalwat” (menyepi) yang diberikan Allah Swt.

Di balik jeruji besi itulah, ia menyelesaikan mahakaryanya, Tafsir Al-Azhar sebanyak 30 juz. Tafsir tersebut kini dibaca jutaan umat Islam di seluruh dunia.

Baca Juga: Sumbangkan 28 Kg untuk Monas, Teuku Markam Justru Dibalas dengan Penjara dan Fitnah Keji

Pada tahun 1966, rezim berganti dan Hamka dibebaskan dari penjara. Ia keluar dari jeruji besi tanpa membawa sedikit pun dendam kepada Soekarno maupun kekuasaan sebelumnya.

Tak lama kemudian, Soekarno jatuh sakit parah dan menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso. Sang Proklamator kini sendirian, kesepian, dan dijauhi banyak orang.

Pada Juni 1970, Soekarno wafat. Sebelum meninggal, Bung Karno meninggalkan wasiat yang mengejutkan ajudannya.

“Kalau aku mati, minta Hamka yang menjadi imam shalat jenazahku.”

Ajudan pun bingung. Bukankah Soekarno adalah orang yang memenjarakan Hamka?

Saat pesan itu disampaikan, Hamka tidak berpikir dua kali. Ia langsung bergegas melayat. Di depan jenazah sahabat yang pernah mendzaliminya itu, Hamka menangis tersedu-sedu.

Ia memimpin shalat jenazah dengan suara bergetar. “Saya tidak pernah dendam pada Bung Karno. Kami bersahabat,” ucapnya.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa Buya Hamka memaafkan. Hamka menjawab, “Dendam itu seperti meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati.”

Ia memilih untuk memaafkan, dan sejarah mencatatnya sebagai pemenang kehidupan yang sesungguhnya.

Buya Hamka mengajarkan bahwa memaafkan musuh jauh lebih berat daripada memukul balik.

Namun, itulah ciri jiwa yang besar. Alfatihah untuk Buya Hamka dan Bung Karno.

Baca Juga: Punya Tato Auto Mati? Masa Kelam Pria Bertato Akibat Operasi Petrus (Penembakan Misterius)

Related Post

Tinggalkan komentar