Sekitarbandung.com – Bayangkan jika kamu hidup pada tahun 1983. Setiap pagi, isi berita koran selalu sama, yakni penemuan mayat tanpa identitas, kadang terikat tali, kadang dimasukkan ke dalam karung, tergeletak di pinggir jalan atau mengambang di sungai.
Masyarakat menyebut pelakunya dengan satu nama yang selalu membuat merinding, yaitu PETRUS (Penembak Misterius).
Pada awal 1980-an, angka kriminalitas di Indonesia melonjak tajam. Para “Gali” atau Gabungan Anak Liar yang dikenal sebagai preman menguasai jalanan.
Perampokan, pemerkosaan, hingga pemalakan terjadi secara terang-terangan. Aparat kepolisian kewalahan, masyarakat resah, dan negara dianggap membutuhkan solusi cepat, hingga akhirnya dimulailah operasi senyap tersebut.
Siapa targetnya? Tentu saja residivis, preman, dan orang-orang bertato. Pada masa itu, tato bukan dipandang sebagai seni atau gaya hidup, melainkan simbol kriminalitas.
Petrus bekerja dengan sangat rapi. Target dijemput oleh orang-orang bertubuh tegap, dimasukkan ke dalam mobil Jeep atau Toyota Hardtop, lalu menghilang tanpa jejak.
Ketakutan pun menyebar luas. Preman yang biasanya garang mendadak ciut nyali, sementara banyak orang bertato, bahkan yang bukan pelaku kriminal, panik setengah mati.
Demi menyelamatkan nyawa, sebagian nekat melakukan tindakan ekstrem, mulai dari menghapus tato dengan cara disetrika, disiram air keras, hingga dikerok menggunakan silet atau kulit kelapa.
Petrus tidak berusaha menyembunyikan hasil aksinya. Mayat-mayat sengaja ditinggalkan di tempat ramai dengan tujuan jelas sebagai shock therapy.
Pesan dari penguasa pun terasa tegas, jangan macam-macam atau kamu akan berakhir seperti ini.
Apakah kebijakan tersebut efektif? Sangat efektif. Dalam hitungan bulan, angka kejahatan turun drastis, masyarakat bisa tidur lebih nyenyak, pintu rumah kerap dibiarkan tidak terkunci, dan tukang becak serta pedagang pasar merasa lebih aman.
Namun di sisi lain, Komnas HAM mencatat ribuan nyawa melayang tanpa melalui proses pengadilan yang semestinya.
Bertahun-tahun menjadi misteri, hingga akhirnya Presiden Soeharto buka suara mengenai peristiwa tersebut.
Melalui otobiografinya berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, ia mengakui bahwa peristiwa itu merupakan tindakan tegas aparat keamanan.
“Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu tidak lantas ditembak begitu saja. Yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak.”
Petrus menjadi salah satu lembaran sejarah Indonesia yang berwarna abu-abu. Bagi para korban pelanggaran HAM, peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan.
Namun bagi sebagian warga yang sebelumnya hidup dalam teror premanisme, Petrus justru dianggap sebagai “pahlawan penyelamat”, karena sejarah memang selalu memiliki dua sisi.
Bagaimana menurutmu? Apakah keamanan memang harus dibayar dengan cara seperti ini?

