Mengapa Anak Pilih untuk Diam? Bisa Jadi Simpan Luka yang Sangat Mendalam?

Sekitarbandung.com – Seringnya anak memilih untuk diam bukan karena anak tidak mau bicara, tetapi karena orang tua tidak menyediakan ruang agar anak bisa bercerita. Pemicunya

Dicky Wicaksono

Mengapa Anak Pilih untuk Diam? Bisa Jadi Simpan Luka yang Sangat Mendalam?
Mengapa Anak Pilih untuk Diam? Bisa Jadi Simpan Luka yang Sangat Mendalam? (Instagram/@humas_jabar)

Sekitarbandung.com – Seringnya anak memilih untuk diam bukan karena anak tidak mau bicara, tetapi karena orang tua tidak menyediakan ruang agar anak bisa bercerita.

Pemicunya bisa jadi dari mana saja, dengan beberapa kemungkinan yang di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Ayah Bunda sering bertengkar di depan anak sedari kecil.
  • Ayah Bunda sibuk mencari uang atau karier, lupa saling bertanya kabar.
  • Anak diasuh oleh baby sitter atau asisten rumah tangga.
  • Rumah kehilangan suasana harmonis dan tidak betah.

Bandung, 10 Februari 2026.

Seorang pelajar 17 tahun asal Cimahi meninggal di tempat setelah melompat dari Flyover Pasupati sekitar pukul 09.30 WIB.

Polisi masih menyelidiki motif dan memeriksa ponsel korban. Tentu ini bukan sekadar berita, tetapi ini alarm sosial untuk kita bersama.

Baca Juga: Momen Haru Sejumlah Siswa Ini Suapin Makan ke Anak Spesial yang Sering Main ke Sekolah Mereka

Jika Karakter dari Luar

Bayangkan jika anak kita terbentuk karakternya dari dunia luar. Pengaruh negatif film, hedonisme di media sosial, dan pergaulan yang buruk bisa menjadi ancaman.

Orang tua merupakan cara pertama anak mengenal dunia, bagaimana mencari solusi dan menyelesaikan masalah, serta tempat berpulangnya emosi dan keluhan.

Ajakan Pemprov Jawa Barat

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui unggahan akun Instagram @humas_jabar pada Jumat (13/2/2026), mengajak para orang tua untuk mengecek kesehatan mental anak dengan:

  • Membuat obrolan kecil yang menyenangkan setiap hari.
  • Mendengarkan dengan tulus dan penuh toleransi.
  • Menjadi “teman bicara”, bukan “yang menghakimi”.
  • Tidak membentak, tidak meremehkan, tidak merendahkan.

“Wargi Jabar, sudah bertukar cerita sama anak hari ini? Tulis pendapat dan pengalaman kamu di kolom komentar ya!” tulisnya dalam unggahan.

Baca Juga: Pemerintah Prancis Kirim Surat kepada Warga Usia 29 Tahun untuk Punya Anak Sebelum Terlambat

Related Post

Tinggalkan komentar