Sekitarbandung.com – Saat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sedang merajalela di birokrasi Indonesia pada sekitar tahun 1990-an, muncul satu sosok yang sangat langka, Mar’ie Muhammad.
Ia duduk di kursi basah sebagai Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak dan Menteri Keuangan, tetapi bajunya tetap kering dari cipratan-cipratan uang haram.
Bahkan saking bersihnya, ia sampai dijuluki sebagai “Mr. Clean”. Julukan itu datang dari jurnalis asing dan pengamat ekonomi. Mengapa begitu?
Karena ia satu-satunya pejabat yang berani menolak amplop, komisi, dan menolak titipan proyek dari siapa pun, termasuk dari keluarga Cendana atau jenderal-jenderal kuat saat itu.
Sebelum menjadi Menteri, ia adalah Dirjen Pajak. Tindakannya sangat gila, yaitu ia membersihkan “tikus-tikus” di kantor pajak.
Pegawai yang ketahuan main mata dengan pengusaha langsung disikat. Ia ingin membuktikan bahwa pajak itu uang rakyat, bukan uang jajan pejabat.
Ketika menjadi Menteri Keuangan pada tahun 1993-1998, ia terkenal pelit untuk urusan negara. Ia memangkas anggaran perjalanan dinas pejabat yang tidak penting.
Ia menolak pemborosan. Karena prinsipnya, yaitu:
“Ini uang rakyat. Setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan.”
Menteri lain bangga dengan mobil dinas Volvo mewah. Mar’ie Muhammad? Ia lebih nyaman naik Toyota Kijang pribadinya.
Baca Juga: Fatmawati Jahit Bendera untuk Negara, tetapi Pilih Pergi dari Istana Demi Harga Diri Wanita
Bahkan saat pensiun, ia mengembalikan seluruh fasilitas negara tanpa ada yang tersisa. Tak ada rumah mewah hasil korupsi, apalagi koleksi mobil sport di garasinya.
Saat badai Krisis Moneter 1997 mulai menghantam, Mar’ie Muhammad berdiri di garis depan. Demi menyelamatkan ekonomi, ia mengambil langkah paling ekstrem:
Menutup 16 bank bermasalah pada November 1997. Tak peduli meski di dalamnya ada bank milik keluarga penguasa.
Langkah tersebut ia lakukan menandakan bahwa ia berani dalam mengambil risiko berupa didepak dari kekuasaan demi menjaga integritas negara.
Mar’ie wafat pada 11 Desember 2016. Ia pergi dengan tenang, tanpa meninggalkan tumpukan aset atau properti mewah. Warisan terbesarnya hanyalah satu kata: Integritas.
Sri Mulyani Indrawati pun mengenangnya sebagai sosok raksasa moral dan mentor yang tak tergoyahkan. Baginya, Mar’ie Muhammad adalah standar tertinggi seorang penjaga keuangan negara.
Di era sekarang, saat layar HP kita penuh dengan drama “Pejabat Pamer Rubicon” dan tas mewah, tentu kita rindu sosok Mar’ie Muhammad.
Sosok yang membuktikan bahwa kursi kekuasaan tidak harus jadi alat memperkaya diri, melainkan bahwa menjadi pejabat bukan tentang seberapa banyak harta yang dikumpulkan, tetapi seberapa bersih nama yang dibawa pulang.
Baca Juga: Tragedi Semanggi 1998, Saat Soeharto Sudah Turun tetapi Mahasiswa Masih Ditembak Mati

