Sekitarbandung.com – Saat Indonesia baru merdeka, kas negara kita benar-benar kosong melompong, tetapi di saat yang sama ada satu pribumi yang hartanya tumpah ruah, namanya Agus Musin Dasaad.
Ia merupakan pemilik “Dasaad Musin Concern”, sebuah imperium bisnis raksasa yang menguasai tekstil, perkapalan, hingga lisensi impor kendaraan bermotor.
Dasaad bukanlah pengusaha yang pelit, ia adalah sahabat karib Soekarno, saat para pendiri bangsa butuh dana untuk pergerakan politik, Dasaad-lah yang membuka dompet.
Bahkan, rumah mewahnya sering dijadikan tempat rapat rahasia para tokoh bangsa, ia rela mempertaruhkan nyawa dan hartanya diincar Belanda demi membiayai para pejuang Republik.
Tahukah kamu dari mana Soekarno mendapatkan mobil-mobil kepresidenan di awal kemerdekaan, Dasaad-lah salah satu penyuplainya.
Ia tidak hitung-hitungan dengan negara, apa yang Soekarno butuhkan untuk membangun wibawa Indonesia di mata dunia, Dasaad siap menyediakannya.
Ia menjadi simbol kebangkitan “Pengusaha Pribumi” yang sukses mengalahkan dominasi pengusaha Belanda dan Tionghoa pada saat itu.
Di era Orde Lama (1950-an), kejayaan Dasaad mencapai puncaknya, pabrik tekstilnya, Kancil Mas di Bangil, menyerap ribuan pekerja lokal.
Baca Juga: Mar’ie Muhammad Bisa Hidup Mewah, tetapi Pilih Naik Kijang Butut daripada Pakai Mobil Dinas
Ia memonopoli banyak proyek besar berkat kedekatannya dengan pemerintah, bisa dibilang ia adalah “Sultan” paling berkuasa di Jakarta pada masa itu.
Namun, roda nasib berputar kejam pada tahun 1965, pemerintahan Orde Lama tumbang, Bung Karno dilengserkan dan diasingkan.
Kejatuhan sang sahabat karib menjadi awal kiamat bagi bisnis Dasaad, sebagai pengusaha yang sangat lekat dengan “Grup Soekarno”, ia langsung kehilangan semua keistimewaannya.
Di era Orde Baru, keran kredit untuk perusahaannya disumbat, lisensi bisnisnya dicabut, pabrik-pabriknya yang dulu berjaya mulai bangkrut karena tak mampu bersaing dan tak lagi mendapat proteksi pemerintah.
Dasaad yang sudah menua hanya bisa menyaksikan imperium yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh berkeping-keping.
Dasaad wafat pada tahun 1970, di tahun yang sama dengan wafatnya sang sahabat, Soekarno, ia pergi meninggalkan jejak sejarah yang perlahan dihapus dan dilupakan.
Sang konglomerat pertama yang dulu membalut luka negara dengan uangnya akhirnya tumbang tak berdaya ditelan kerasnya politik.
Dasaad mungkin kini hanya nama di buku sejarah yang berdebu, namun warisannya tetap hidup sebagai alarm bagi setiap pengusaha.
Bahwa koneksi bisa membangun istana, tetapi hanya integritas yang bisa menjaganya agar tidak runtuh saat angin politik berganti arah.
Baca Juga: Fatmawati Jahit Bendera untuk Negara, tetapi Pilih Pergi dari Istana Demi Harga Diri Wanita

