Tak Mempan Ditembus Senjata, Bura Gugur Dibakar demi Selamatkan Sang Ibu

Sekitarbandung.com – Bura, seorang petani sederhana sekaligus Komandan Laskar Burung Garuda dari Desa Jatian, Jember, yang namanya melegenda hingga kini. Ia merupakan sosok dari ujung

Dicky Wicaksono

Tak Mempan Ditembus Senjata, Bura Gugur Dibakar demi Selamatkan Sang Ibu
Tak Mempan Ditembus Senjata, Bura Gugur Dibakar demi Selamatkan Sang Ibu

Sekitarbandung.com – Bura, seorang petani sederhana sekaligus Komandan Laskar Burung Garuda dari Desa Jatian, Jember, yang namanya melegenda hingga kini. Ia merupakan sosok dari ujung timur Jawa yang menjadi momok paling mengerikan bagi penjajah.

Bura bukanlah pendekar sembarangan. Berkat bimbingan spiritual dari gurunya, KH Abdul Hamid, ia memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi yang sulit dinalar akal sehat.

Tubuhnya bagaikan baja. Kulitnya tidak mempan tebasan pedang, bahkan terjangan peluru senapan mesin militer Belanda pun tak sanggup melukai seujung kuku pun.

Menjelang Agresi Militer Belanda, Bura menjadi mimpi buruk paling menakutkan bagi kompeni di wilayah Jember Utara. Ia hanya bersenjatakan sebilah celurit.

Bura sering kali mencegat dan menghabisi satu regu pasukan Belanda yang bersenjata lengkap seorang diri. Namanya saja sudah cukup untuk membuat nyali tentara penjajah ciut seketika.

Belanda benar-benar frustrasi karena Bura tidak bisa dibunuh dengan cara apa pun. Karena kalah secara jantan, mereka akhirnya menggunakan cara paling pengecut.

Baca Juga: Frans Kaisiepo Rela Dibuang dan Dipenjara Demi Mempertahankan Papua ke Pangkuan Negara Indonesia

Mereka menculik dan menyandera ibu kandung Bura. Mereka menyiksa sang ibu tanpa ampun, hanya untuk memaksa Bura keluar dari persembunyiannya.

Melihat ibunda tercinta menderita di tangan penjajah, hati sang pendekar runtuh. Bura, lelaki perkasa yang tak pernah mundur selangkah pun di medan laga, akhirnya memilih meletakkan senjatanya.

Ia rela menyerahkan diri dan menukar kebebasannya demi menyelamatkan nyawa sang ibu yang sangat ia cintai. Sadar bahwa senjata tajam tak berguna di hadapan Bura, Belanda mengaraknya keliling desa tanpa baju dalam kondisi terborgol.

Setibanya di tepi Sungai Jatian, kompeni mengikat tubuhnya lalu membakar sang pendekar hidup-hidup. Abu jasad sang pahlawan kemudian dibuang begitu saja ke aliran sungai tanpa penghormatan militer.

Sebelum gugur dengan cara yang sangat menyakitkan, Bura meninggalkan sebuah wasiat yang membuat siapa pun merinding.

Ia melarang keras anak cucunya kelak untuk meminta “gelar pahlawan” atau imbalan apa pun kepada pemerintah.

“Biarlah perjuanganku hanya Allah yang menilai,” pesannya.

Baca Juga: Hanya Modal Bersenjatakan Puisi, tetapi Suaranya Wiji Thukul Lebih Ditakuti daripada Desingan Peluru

Related Post

Tinggalkan komentar