Sekitarbandung.com – Wiji Thukul bukan hanya sekadar penyair yang merangkai kata di atas kertas. Ia adalah buruh kayu yang memilih kata-kata sebagai senjatanya.
Di saat penyair lain memuja bunga dan senja, Thukul berbicara tentang bau keringat pabrik, perut yang melilit karena lapar, dan upah yang dirampas. Ia adalah suara bagi mereka yang tidak bisa bicara.
Di era Orde Baru, kata-kata menjadi barang terlarang jika berisi kebenaran. Puisi Thukul seperti “Peringatan” dan “Bunga dan Tembok” bukan sekadar rima, tetapi tamparan bagi penguasa.
Kalimatnya sederhana namun mematikan, mampu membakar semangat ribuan buruh untuk berdiri tegak. Baginya, menulis adalah cara untuk tidak menyerah pada penindasan.
Thukul tidak pernah bersembunyi di balik meja. Melalui Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker), ia turun ke jalan, memimpin demonstrasi, dan berhadapan langsung dengan laras senapan.
Pada pemogokan buruh PT Sritex tahun 1995, matanya hampir buta akibat dihantam popor senapan aparat. Bukannya ciut, luka itu justru membuat nyalinya semakin menyala dan menggebu-gebu.
Pasca peristiwa Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996, Thukul dituduh sebagai dalang kerusuhan. Ia terpaksa hidup berpindah-pindah dan bersembunyi dari satu kota ke kota lain dalam kegelapan.
Baca Juga: Tolak Rumah Gratis dari Negara, Try Sutrisno Lebih Pilih Nyicil Sendiri Belasan Tahun
Ia menjadi buronan utama rezim yang ketakutan pada kekuatan kata-katanya. Di masa pelarian inilah, kerinduannya pada anak dan istri tertuang dalam surat-surat yang menyayat hati.
Pada bulan Mei 1998, saat rakyat tumpah ke jalan menuntut Reformasi, sosok Thukul justru lenyap. Ia hilang ditelan bumi di tengah hiruk-pikuk jatuhnya Soeharto.
Diduga kuat ia diculik oleh Tim Mawar karena dianggap membahayakan stabilitas. Hingga detik ini, tidak ada nisan, tidak ada kabar, dan hanya ruang kosong yang ditinggalkannya bagi keluarga.
Rezim mungkin berhasil menghilangkan fisiknya, tetapi mereka gagal membunuh ide-idenya. Suara Thukul kini menggema di setiap aksi demonstrasi, di dinding-dinding kota, dan di hati setiap orang yang mencari keadilan.
Pekikannya, “Hanya ada satu kata: LAWAN!”, telah menjadi mantra abadi bagi perjuangan demokrasi di Indonesia.
Kisah Wiji Thukul adalah cermin retak sejarah kita yang belum pulih. Menghargainya bukan hanya sekadar dengan membaca puisinya, tetapi juga melanjutkan kegelisahannya akan ketidakadilan.
Mari kita teruskan suaranya agar ia tak hilang untuk kedua kalinya dalam ingatan bangsa.
Baca Juga: Sosok Perwira Tinggi Jepang Ini Rela Hancurkan Karier Militernya Demi Kemerdekaan Indonesia

