Banyak Tetangga yang Mendadak Hilang, Warga Indonesia Rayakan Idulfitri Tahun 1966 dengan Penuh Rasa Ketakutan

Sekitarbandung.com – Pada saat itu, Indonesia baru saja melewati salah satu masa paling berdarah dalam sejarahnya, sebuah tragedi yang suasananya sangat mengerikan dan mencekam bagi

Dicky Wicaksono

Banyak Tetangga yang Mendadak Hilang, Warga Indonesia Rayakan Idulfitri Tahun 1966 dengan Penuh Rasa Ketakutan
Banyak Tetangga yang Mendadak Hilang, Warga Indonesia Rayakan Idulfitri Tahun 1966 dengan Penuh Rasa Ketakutan

Sekitarbandung.com – Pada saat itu, Indonesia baru saja melewati salah satu masa paling berdarah dalam sejarahnya, sebuah tragedi yang suasananya sangat mengerikan dan mencekam bagi banyak orang.

Tragedi pada malam 30 September 1965 baru saja berlalu beberapa bulan, menyisakan trauma mendalam, operasi pembersihan besar-besaran, dan puluhan ribu nyawa yang melayang.

Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan momen kebahagiaan, membeli baju baru, dan hangatnya berkumpul bersama keluarga, namun coba bayangkan merayakan hari kemenangan itu di tengah suasana mencekam.

Itulah yang terjadi pada perayaan Lebaran di bulan Januari tahun 1966, alih-alih merayakan dengan suka cita, banyak keluarga yang harus meneteskan air mata di meja makan.

Ayah, suami, anak, atau tetangga mereka mendadak hilang dijemput paksa oleh sekumpulan orang pada tengah malam dan tidak pernah kembali pulang sama sekali.

Tradisi silaturahmi yang biasanya hangat seketika berubah menjadi momen yang sangat canggung dan menakutkan.

Baca Juga: Awalnya Hanya untuk Pejabat, Asal-Usul Uang THR Lebaran Lahir dari Perlawanan Buruh

Masyarakat diselimuti rasa saling curiga yang sangat besar, bahkan saking mengerikannya sampai tidak ada yang berani untuk berbicara sembarangan.

Warga takut salah menyapa tetangga, takut bertamu ke rumah yang salah, dan sangat berhati-hati agar tidak dituduh sebagai simpatisan PKI.

Pada masa itu, satu fitnah kecil saja sudah cukup untuk membuat nyawa seseorang dihilangkan tanpa peradilan, seolah penderitaan itu belum cukup, kondisi ekonomi negara saat itu sedang hancur lebur.

Inflasi meroket sangat tajam hingga menembus angka 600 persen, uang nyaris tidak ada harganya sehingga membuat perut rakyat kecil menjerit kelaparan.

Jangankan membeli daging untuk opor ayam yang bisa disantap bersama keluarga saat Lebaran, untuk bisa makan nasi sehari-hari saja sudah sangat sulit.

Suasana malam takbiran yang biasanya meriah juga digantikan dengan sunyinya aturan jam malam dan sudut-sudut kota yang dijaga secara ketat oleh tentara bersenjata lengkap.

Lebaran tahun 1966 menjadi saksi bisu bagaimana sebuah hari raya dirayakan dengan kebisuan, kelaparan, dan air mata yang harus disembunyikan rapat-rapat sehingga menjadi pengingat akan kelamnya sejarah yang pernah terjadi.

Baca Juga: Negara Nyaris Hancur Lebur, Tradisi Lebaran Halal Bihalal Diciptakan untuk Satukan Elite Politik

Related Post

Tinggalkan komentar