Sekitarbandung.com – Bagi sejarah Republik Indonesia, nama Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta adalah dua entitas sakral yang tidak bisa dipisahkan. Mereka dijuluki sebagai Sang Dwitunggal.
Persahabatan mereka telah melewati pahit manisnya perjuangan, penjara, pengasingan, hingga akhirnya berhasil memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini.
Namun, layaknya sebuah perjalanan panjang, kemesraan dua sahabat tersebut tidak bertahan selamanya saat memasuki pertengahan tahun 1950-an.
Saat itu, badai politik yang sangat besar mulai mengguncang fondasi pemerintahan. Perbedaan pandangan yang tajam mulai meretakkan Sang Dwitunggal.
Bung Hatta yang dikenal sangat taat asas dan mencintai iklim demokrasi melihat Bung Karno mulai melangkah terlalu jauh. Saat itu, Soekarno mulai menggagas konsep “Demokrasi Terpimpin”.
Hal tersebut merupakan sebuah ideologi yang ditentang keras oleh Hatta karena dianggap menyalahi konstitusi awal negara.
Bagi Bung Hatta, sistem Demokrasi Terpimpin tidak ubahnya seperti kediktatoran terselubung. Ia melihat sistem itu hanya akan mematikan suara rakyat.
Selain itu, sistem tersebut juga membungkam partai politik dan memusatkan kekuasaan mutlak hanya pada satu tangan, yaitu tangan sahabatnya sendiri.
Baca Juga: Puluhan Tahun Sangat Angker, Gus Dur Justru Bebaskan Warga Tiduran di Dalam Istana
Di balik layar, kedua tokoh besar ini berkali-kali saling berdebat tajam untuk mempertahankan prinsip masing-masing. Namun, Soekarno tetap bersikeras pada jalannya.
Bung Hatta akhirnya sadar bahwa gerbong kereta yang mereka tumpangi bersama sudah tidak lagi berada di rel yang sama. Karena dihadapkan pada pilihan sulit, Hatta mengambil jalan paling terhormat namun menyakitkan.
Daripada duduk nyaman sebagai Wakil Presiden tetapi membiarkan negaranya melenceng menjadi otoriter, Hatta menolak berkompromi dan menolak mengorbankan integritasnya demi sebuah jabatan.
Puncaknya pada tanggal 1 Desember 1956, Bung Hatta mengambil keputusan bersejarah. Ia resmi melepaskan kursi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Ia mengembalikan mandatnya, meninggalkan segala fasilitas VVIP negara, dan memilih kembali hidup sederhana sebagai rakyat biasa yang merdeka.
Keputusan Bung Hatta menjadi pukulan telak bagi Soekarno dan seluruh rakyat Indonesia kala itu. Ia meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga.
Warisan tersebut mungkin tidak akan mudah ditemukan pada diri pejabat masa kini, yaitu integritas sejati. Mari kita kirimkan rasa hormat terdalam untuk Sang Proklamator.

