Sekitarbandung.com – Bagi generasi 90-an, wajah tokoh dengan tatapan tajam ini sangat akrab karena sering menghiasi dompet kita di lembaran uang sepuluh ribu rupiah. Ia merupakan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sebagai penguasa Kesultanan Palembang-Darussalam, di bawah kepemimpinannya Palembang berada di puncak kejayaan. Tanah ini sangat kaya akan rempah-rempah.
Selain itu, Palembang juga menjadi penghasil timah terbesar di Nusantara. Kekayaan luar biasa inilah yang membuat dua kerajaan besar Eropa, Inggris dan Belanda, sangat berambisi untuk menguasainya.
Ketika Inggris sempat berkuasa di Nusantara, Thomas Stamford Raffles mencoba membujuk, merayu, hingga mengancam Sang Sultan untuk menyerahkan tambang timahnya.
Namun, Sultan Mahmud Badaruddin II menolak keras. Ia tidak sudi sejengkal pun tanah airnya diatur oleh bangsa kulit putih tersebut.
Setelah Inggris pergi, giliran Belanda yang datang dengan membawa armada perang bersenjata lengkap. Mereka memaksa Palembang untuk tunduk.
Bukannya gentar, Sang Sultan justru menyambut mereka dengan kobaran Perang Menteng pada tahun 1819. Ia memimpin langsung pasukannya dari Benteng Kuto Besak.
Baca Juga: Awalnya Hanya untuk Pejabat, Asal-Usul Uang THR Lebaran Lahir dari Perlawanan Buruh
Sultan Mahmud Badaruddin II dikenal sebagai ahli strategi militer yang jenius. Ia menggunakan taktik rakit penusul (rakit api yang dihanyutkan) dan membombardir armada kompeni di Sungai Musi. Hasilnya?
Kapal-kapal perang Belanda terbakar, tenggelam, dan komandannya tewas mengenaskan. Dibuat malu dan frustrasi karena dua kali kalah telak dalam perang terbuka, Belanda akhirnya memutar otak.
Pada tahun 1821, mereka mendatangkan armada laut raksasa dengan ribuan pasukan tambahan yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka memblokade total urat nadi ekonomi Palembang.
Melihat rakyatnya mulai menderita kelaparan dan terancam pembantaian total, Sang Sultan akhirnya memilih mengalah demi menyelamatkan nyawa warganya.
Karena Belanda sangat ketakutan akan pengaruh dan kharismanya, mereka membuang Sang Sultan sejauh mungkin ke daerah Ternate, Maluku.
Ia menghabiskan sisa usianya di pengasingan hingga wafat pada tahun 1852, terpisah ribuan kilometer dari tanah kelahirannya.
Takhta dan raganya mungkin berhasil dirampas penjajah, namun harga dirinya tidak pernah bisa dibeli.
Baca Juga: Negara Nyaris Hancur Lebur, Tradisi Lebaran Halal Bihalal Diciptakan untuk Satukan Elite Politik

