Jarang Posting Media Sosial Bukan Berarti Tidak Punya Kehidupan, tetapi Ingin Lebih Waras

Sekitarbandung.com – Kita pasti memiliki teman yang hampir tidak pernah memperbarui media sosialnya, saat liburan tidak ada IG story, saat Lebaran tidak ada unggahan di

Dicky Wicaksono

Jarang Posting Media Sosial Bukan Berarti Tidak Punya Kehidupan, tetapi Ingin Lebih Waras
Jarang Posting Media Sosial Bukan Berarti Tidak Punya Kehidupan, tetapi Ingin Lebih Waras

Sekitarbandung.com – Kita pasti memiliki teman yang hampir tidak pernah memperbarui media sosialnya, saat liburan tidak ada IG story, saat Lebaran tidak ada unggahan di feed, bahkan akunnya terlihat sepi seperti kuburan.

Namun, mereka tetap mengikuti perkembangan berita yang sedang viral, dan ketika bertemu langsung ternyata baik-baik saja, bahkan sesekali mereka juga bisa berbagi cerita kehidupan pribadinya dengan antusias.

Mereka yang memiliki kebiasaan seperti itu disebut sebagai lurker, yaitu seseorang yang tetap mengonsumsi konten di media sosial tetapi jarang sekali melakukan posting maupun berinteraksi.

Dari seluruh pengguna media sosial, rata-rata sekitar 22 persen merupakan lurker yang sesekali memberikan tanda suka atau less effort engagement, sementara 18 persen lainnya hampir tidak pernah berinteraksi dan lebih dikenal sebagai silent reader.

Platform media sosial pada dasarnya dirancang untuk menciptakan dopamine loop, di mana setiap like, tag, dan komentar dapat memicu sistem reward di otak sehingga menimbulkan rasa senang dan puas secara bersamaan.

Baca Juga: Mulai Hari Ini, Anak di Bawah Umur 16 Tahun Tidak Akan Memiliki Akun Media Sosial

Jika menggunakan pendekatan self-determination theory atau teori motivasi psikologi, lurker tetap dapat merasa berkembang karena mereka memiliki kebebasan dari tekanan luar atau kebutuhan untuk bersikap otonom.

Diamnya mereka di media sosial bukan berarti tidak terjadi apa-apa, melainkan mereka lebih selektif dalam menentukan apa yang ingin dibagikan dan kepada siapa hal tersebut layak diceritakan.

Tujuan utamanya adalah untuk melindungi kebebasan bertindak, atau secara sederhana karena mereka enggan menghadapi penilaian atau judge dari orang lain yang dianggap merepotkan.

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kecenderungan lurker yang lebih mengandalkan motivasi intrinsik, yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri, bukan dari pengaruh eksternal.

Namun, terlepas dari semua itu, perlu dipahami bahwa menjadi lurker bukan berarti lebih baik dibandingkan dengan mereka yang aktif di media sosial, melainkan hanya perbedaan sudut pandang dalam menyikapi penggunaan platform digital.

Baca Juga: Hindari Oversharing di Media Sosial, Yuk Jaga Privasi Selama Perjalanan Mudik!

Related Post

Tinggalkan komentar