Sekitarbandung.com – Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, atau lebih dikenal sebagai Gubernur Suryo, merupakan Gubernur pertama Jawa Timur yang dikenal memiliki keberanian luar biasa dalam melawan penjajah.
Ia berani menghadapi moncong senapan tentara penjajah terkuat di dunia, namun harus menemui ajal dengan cara yang sangat tragis di tangan saudara sebangsanya sendiri.
Pada tahun 1945, di bawah kepemimpinannya, ia berhasil menyatukan semangat rakyat untuk menolak tunduk kepada kekuasaan Sekutu, yaitu Inggris.
Puncak heroismenya terjadi pada November 1945, ketika Inggris mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata.
Dengan nyali baja, Gubernur Suryo berpidato melalui radio dan dengan tegas menolak mentah-mentah ultimatum tersebut.
“Rakyat Suroboyo menolak menyerah,” tegasnya!
Pidato itulah yang kemudian memicu Pertempuran 10 November 1945 yang legendaris, di mana Surabaya hancur lebur akibat dihujani bom, peluru, dan meriam.
Untungnya, Gubernur Suryo berhasil lolos dari maut. Ia selamat dari gempuran penjajah Inggris dan terus memimpin republik dalam menembus masa revolusi.
Baca Juga: Rela Lepas Emas dan Perhiasan, Ibu-ibu Minangkabau ini Patungan untuk Beli Pesawat Ketiga RI
Sayangnya, takdir menuliskan kisah lain yang sangat kejam. Pada tahun 1948, badai politik besar menghantam Republik.
Pemberontakan PKI meletus hebat di Madiun, membawa gelombang penculikan dan pembunuhan terhadap para pejabat negara serta tokoh agama.
Pada November 1948, Gubernur Suryo yang sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta melintasi kawasan Hutan Kedunggalar, Ngawi.
Tiba-tiba, mobilnya dicegat oleh kelompok pemberontak yang menaruh dendam kepada pejabat Republik.
Pria yang dahulu membuat Jenderal Inggris kewalahan itu kini tidak berdaya saat dikepung oleh orang-orang dari bangsanya sendiri.
Sang Gubernur kemudian diseret paksa turun dari mobil, dibawa masuk ke dalam lebatnya hutan, ditelanjangi, dan dibunuh secara keji di tengah hutan yang sunyi.
Ia tidak gugur oleh bom dan peluru penjajah asing, melainkan oleh kejamnya pengkhianatan di negeri sendiri akibat butanya ideologi.
Sebagai bentuk penghormatan, namanya kini diabadikan menjadi nama jalan utama di berbagai kota di Jawa Timur.
Baca Juga: Rela Disiksa demi Kemerdekaan, Hidup Amir Syarifuddin Justru Berakhir Dieksekusi Mati

