Rela Lepas Emas dan Perhiasan, Ibu-ibu Minangkabau ini Patungan untuk Beli Pesawat Ketiga RI

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1947, sejarah mencatat sebuah aksi solidaritas yang menggetarkan, ketika ibu-ibu di Minangkabau patungan perhiasan mereka untuk membelikan pesawat terbang bagi Republik

Dicky Wicaksono

Rela Lepas Emas dan Perhiasan, Ibu-ibu Minangkabau ini Patungan untuk Beli Pesawat Ketiga RI
Rela Lepas Emas dan Perhiasan, Ibu-ibu Minangkabau ini Patungan untuk Beli Pesawat Ketiga RI

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1947, sejarah mencatat sebuah aksi solidaritas yang menggetarkan, ketika ibu-ibu di Minangkabau patungan perhiasan mereka untuk membelikan pesawat terbang bagi Republik Indonesia.

Saat itu merupakan masa-masa kritis bagi Indonesia yang baru merdeka. Kas negara benar-benar kosong.

Jangankan untuk membeli armada militer yang mahal, untuk operasional negara sehari-hari saja pemerintah mengalami kesulitan.

Padahal, di sisi lain, Indonesia sangat membutuhkan pesawat angkut untuk menembus blokade udara Belanda.

Melihat kondisi negara yang terdesak, kaum perempuan di Sumatera Barat, khususnya para ibu atau Bundo Kanduang, melakukan gerakan solidaritas yang luar biasa.

Tanpa paksaan dari siapa pun, mereka rela melepas harta paling berharga yang dimiliki. Gelang, kalung, cincin, hingga anting emas pusaka keluarga disumbangkan secara sukarela demi satu tujuan.

Tujuan tersebut adalah membelikan “sayap” bagi Republik Pertiwi. Dari sumbangan perhiasan rakyat Minang, terkumpul belasan kilogram emas murni.

Dari emas tersebut, pemerintah kemudian berhasil membeli sebuah pesawat angkut bermesin ganda dari Inggris, yaitu Avro Anson RI-003.

Baca Juga: Rela Disiksa demi Kemerdekaan, Hidup Amir Syarifuddin Justru Berakhir Dieksekusi Mati

Pesawat tersebut bukanlah yang pertama dimiliki Indonesia, melainkan pesawat angkut ketiga yang dibeli murni dari sumbangan harta rakyat.

Di bawah komando dua penerbang terbaik, yaitu Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi, RI-003 mengemban misi vital yang sangat berbahaya.

Pesawat tersebut diterbangkan menembus blokade menuju Thailand dan Malaya untuk membeli senjata serta amunisi bagi para pejuang di tanah air.

Misi pembelian senjata tersebut berhasil dilakukan. Namun, sejarah mencatat akhir yang sangat menyayat hati.

Dalam perjalanan pulang menuju Bukittinggi pada Desember 1947, pesawat kebanggaan rakyat Minang ini terjebak badai ekstrem di atas perairan Selat Malaka.

Tanpa sistem radar modern, RI-003 kehilangan kendali. Pesawat Avro Anson RI-003 jatuh dan hancur berkeping-keping di Tanjung Hantu, Malaysia.

Dua putra terbaik udara Nusantara tersebut gugur secara tragis. Raga para pahlawan dan pesawat dari emas perhiasan kaum ibu itu mungkin hancur, namun semangat mereka untuk kemerdekaan tetap mengudara selamanya.

Baca Juga: Suaminya Dieksekusi Penjajah, Cut Meutia Justru Ambil Alih Pasukan dan Habisi Tentara Belanda

Related Post

Tinggalkan komentar