Sekitarbandung.com – Bagi Pemerintah Kolonial Belanda, Douwes Dekker adalah pengkhianat kelas kakap. Namun, bagi bangsa Indonesia, ia adalah pahlawan besar yang rela membuang segala hak istimewanya demi sebuah kebenaran.
Ia lahir dengan darah campuran Eropa. Pada masa kolonial, memiliki darah Eropa berarti berada di puncak kasta sosial.
Ia bisa saja hidup bergelimang harta, duduk nyaman di pemerintahan, dan menutup mata dari penderitaan rakyat Nusantara.
Namun, nuraninya menolak untuk diam. Melihat pribumi diperas habis-habisan oleh bangsanya sendiri, Douwes Dekker memilih jalan yang berbeda.
Ia berbalik arah, membelot, dan menentang segala bentuk kolonialisme yang dilakukan oleh bangsanya sendiri terhadap rakyat Indonesia.
Melalui tulisan-tulisannya yang tajam di surat kabar, ia membongkar kebusukan Belanda, hingga mencapai puncaknya pada tahun 1912.
Ia mendirikan Indische Partij bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara, sebagai partai politik pertama yang secara terang-terangan menuntut kemerdekaan mutlak bagi Indonesia.
Keberaniannya menyuarakan kebenaran harus dibayar mahal. Oleh bangsanya sendiri, ia dicap sebagai radikal dan ancaman negara.
Douwes Dekker ditangkap, dipenjara berulang kali, hingga akhirnya diasingkan dan dibuang ke Suriname agar suaranya tidak lagi terdengar di Hindia Belanda.
Tubuhnya boleh diasingkan, tetapi jiwanya tidak pernah tunduk. Setelah Indonesia merdeka, kecintaannya pada republik ini tidak pernah luntur.
Ia kemudian memeluk agama Islam dan mengubah namanya menjadi Danudirja Setiabudi, sebuah nama yang bermakna “Banteng yang kuat, setia, dan berbudi luhur”.
Ia menghabiskan masa tuanya bukan di Eropa, melainkan tetap mengabdi di Indonesia hingga akhir hayatnya pada tahun 1950.
Sosok yang dulu dianggap “pengkhianat” oleh Eropa itu akhirnya diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, membuktikan bahwa kebenaran akan selalu menemukan tempat terhormatnya.
Kisah Douwes Dekker mengajarkan satu hal penting, bahwa membela kebenaran sering kali menuntut keberanian untuk berdiri sendiri, bahkan jika harus dibenci oleh lingkungan sendiri.

