Sekitarbandung.com – Di ketinggian 3.150 mdpl Gunung Lawu, tepat di bawah puncak Hargo Dalem, pernah berdiri sebuah warung kayu sederhana yang legendaris di kalangan pendaki, milik Mbok Yem.
Wakiyem, atau yang lebih akrab disapa Mbok Yem, memilih jalan hidup yang tak biasa, yaitu menetap dan berjualan di atas gunung dengan suhu yang sangat dingin sepanjang tahun sejak dekade 1980-an.
Menunya memang terlihat sederhana, seperti nasi pecel, telur ceplok, mie rebus, dan teh hangat. Namun, bagi para pendaki, cerita yang dirasakan jauh berbeda.
Bagi pendaki yang lelah dan kedinginan setelah berjam-jam mendaki, sepiring hidangan dari Mbok Yem menjadi anugerah yang terasa begitu nikmat.
Lebih dari sekadar tempat makan, warung Mbok Yem juga sering menjadi tempat berteduh darurat. Kehangatan dari tungku kayunya telah membantu banyak pendaki.
Tungku kayu tersebut dimanfaatkan para pendaki untuk memulihkan diri dari kedinginan ekstrem di tengah ganasnya angin Lawu.
Mbok Yem menghabiskan sebagian besar masa tuanya di sana, berkawan dengan sunyi dan lautan awan.
Ia biasanya hanya turun gunung setahun sekali, yaitu saat menjelang momen Lebaran untuk berkumpul bersama keluarganya.
Namun, setiap kisah memiliki titik akhir. Pada 23 April 2025, dunia pendakian berduka. Di usia 82 tahun, ia mengembuskan napas terakhirnya.
Ia meninggalkan puncak Lawu untuk selama-lamanya akibat sakit. Ia memang orang biasa yang mencari nafkah, namun kebaikannya membuat Mbok Yem dianggap sebagai “Ibu” bagi ribuan pendaki.
Keramahan dan senyumnya yang hangat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kenangan mendaki di Gunung Lawu.
Api di tungkunya kini mungkin telah padam, namun namanya akan selalu melekat di hati siapa saja yang pernah menjejakkan kaki di sana. Apakah kamu mempunyai kenangan manis di warung Mbok Yem?
Baca Juga: Tak Gentar Lawan Penjajah, Hidup Gubernur Suryo Justru Berakhir Tragis di Tangan Pengkhianat Negara

