Sekitarbandung.com – Lahir dari trah bangsawan yang sangat dihormati, R.M. Tirto Adhi Soerjo sebenarnya mempunyai hak istimewa untuk hidup nyaman sebagai birokrat kolonial.
Namun, darah perlawanannya menolak untuk tunduk. Ia memilih membuang segala kemewahan itu, dengan turun ke jalanan lalu menempuh jalur perjuangan yang sangat mematikan, yaitu jalur jurnalistik.
Pada tahun 1907, sejarah baru tertulis. Tirto mendirikan koran Medan Prijaji. Ini bukanlah sembarang surat kabar. Inilah koran nasional pertama di Nusantara yang seluruh modal, manajemen, hingga jajaran redaksinya murni dipegang oleh kaum pribumi.
Di tangan Tirto, pena benar-benar berubah menjadi pedang tajam tanpa sarung. Medan Prijaji tidak sekadar mencetak berita. Ia merangkap menjadi lembaga bantuan hukum gratis bagi rakyat jelata yang buta huruf dan tertindas.
Pejabat kolonial yang korup, lintah darat, hingga aparat yang sewenang-wenang, dikuliti habis-habisan melalui tulisannya yang tanpa sensor sama sekali pun.
Keberanian Tirto membuat pemerintah Hindia Belanda gemetar dan kalang kabut. Goresan penanya dianggap jauh lebih berbahaya dari sepasukan tentara yang memegang bedil.
Karena panik, penguasa kolonial mulai memburunya. Berbagai jeratan hukum dan delik pers dijatuhkan kepadanya secara bertubi-tubi demi membungkam nyali sang pelopor.
Baca Juga: Jauh Sebelum Ramai Hari Ini, Soeharto Telah Lebih Dulu Eksekusi Makan Gratis di Sekolah
Puncaknya, pengadilan menjatuhkan hukuman tanpa ampun bagi sang jurnalis. Tirto disingkirkan dari tanah air yang ia bela, dibuang ke tempat pengasingan di Maluku.
Di sana, ia tidak hanya diisolasi secara fisik. Mentalnya dipatahkan, bisnisnya dirampas, dan seluruh aset usahanya dihancurkan perlahan-lahan oleh kejamnya sistem kolonial.
Ketika akhirnya diizinkan pulang ke Batavia, Tirto bukan lagi singa yang sama. Sang pelopor yang dulu begitu ditakuti, kembali dalam keadaan hancur lebur.
Ia jatuh dalam lubang kemiskinan, bahkan menumpang hidup di bekas hotel miliknya sendiri, dalam kondisi fisik yang sakit parah serta ingatan yang mulai memudar.
Tahun 1918 menjadi titik akhir yang sangat ironis. R.M. Tirto Adhi Soerjo, sosok yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menjadi penyambung suara rakyat, harus menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian yang mencekam.
Tidak ada iring-iringan besar, tidak ada ulasan duka di koran. Bapak Pers Nasional kita ditelan zaman, sebelum akhirnya dihidupkan kembali dalam karya sastra Pramoedya Ananta Toer.

