Jauh Sebelum Ramai Hari Ini, Soeharto Telah Lebih Dulu Eksekusi Makan Gratis di Sekolah

Sekitarbandung.com – Hari ini, jagat maya ramai memperbincangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah. Pro dan kontra pun bergema di mana-mana. Namun, tahukah kamu?

Dicky Wicaksono

Jauh Sebelum Ramai Hari Ini, Soeharto Telah Lebih Dulu Eksekusi Makan Gratis di Sekolah
Jauh Sebelum Ramai Hari Ini, Soeharto Telah Lebih Dulu Eksekusi Makan Gratis di Sekolah

Sekitarbandung.com – Hari ini, jagat maya ramai memperbincangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah. Pro dan kontra pun bergema di mana-mana.

Namun, tahukah kamu? Jika melihat ke kaca spion sejarah, Republik ini sebenarnya pernah mengeksekusi program serupa pada puluhan tahun yang lalu.

Melalui Inpres No. 1 Tahun 1997, Presiden ke-2 RI, Soeharto, mengeluarkan kebijakan revolusioner bernama Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS).

Targetnya tidak main-main, yaitu anak-anak SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa-desa tertinggal yang berada di luar Pulau Jawa dan Bali, yang kemudian perlahan diperluas.

Uniknya, menu PMT-AS saat itu sangat membumi. Program ini mewajibkan penggunaan bahan baku lokal. Tidak ada katering mewah.

Menu andalannya adalah bubur kacang hijau, telur rebus, ubi, hingga susu. Sederhana, namun dikalkulasi ketat agar memenuhi standar kalori harian anak.

Baca Juga: Berhasil Lolos dari Misi Bunuh Diri, Nasib Pilot Tempur Pertama RI ini Justru Berakhir Tragis di Surabaya

Lebih dari sekadar membagikan makanan, PMT-AS adalah motor penggerak ekonomi desa. Yang memasak bukanlah perusahaan besar, melainkan ibu-ibu PKK dan kelompok masyarakat setempat.

Bahan bakunya pun dibeli langsung dari para petani lokal yang berada di daerah. Sebuah putaran ekonomi akar rumput yang sangat efektif di masanya.

Sayangnya, umur program ambisius ini tidak panjang. Saat Badai Krisis Moneter (Krismon) menghantam Asia pada akhir tahun 1997 hingga tahun 1998, ekonomi Indonesia luluh lantak.

Anggaran negara tersedot untuk menyelamatkan kebangkrutan nasional, membuat program PMT-AS pun perlahan terhenti seiring dengan runtuhnya Orde Baru.

Sejarah PMT-AS di era Pak Harto adalah kapsul waktu yang berharga. Ia membuktikan bahwa niat memperbaiki gizi generasi bangsa sudah ada sejak dulu.

Meski pada akhirnya selalu berbenturan dengan kondisi ekonomi negara, bagi anak-anak SD era 90-an, momen mengantre dengan mangkuk plastik untuk mendapat jatah bubur kacang hijau dari sekolah adalah kenangan manis yang tak terlupakan.

Apakah kamu salah satu generasi yang pernah merasakan PMT-AS?

Baca Juga: Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri

Related Post

Tinggalkan komentar