Kerokan Jadi Obat Sakit Simpel dan Sering Jadi Obat Andalan

Sekitarbandung.com – Saat badan mulai terasa tidak enak karena kecapekan atau kehujanan, selain minum obat flu, ada satu teknik pengobatan simpel yang sering menjadi andalan,

Dicky Wicaksono

Kerokan Jadi Obat Sakit Simpel dan Sering Jadi Obat Andalan
Kerokan Jadi Obat Sakit Simpel dan Sering Jadi Obat Andalan

Sekitarbandung.com – Saat badan mulai terasa tidak enak karena kecapekan atau kehujanan, selain minum obat flu, ada satu teknik pengobatan simpel yang sering menjadi andalan, yaitu kerokan.

Orang Jawa mempercayai bahwa emosi berlebihan bisa mengganggu peredaran darah. Akibatnya muncul gejala panas dingin, perut kembung, dan pegal linu, yang kemudian disebut “masuk angin”.

Menariknya, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang memiliki tradisi ini. China menyebutnya Gua Sha, Vietnam mengenalnya Cao Gio, dan Kamboja menamainya Goh Kyo.

Budaya Kerokan Menyebar Luas

Budaya kerokan memang menyebar luas, tetapi di Indonesia tradisi ini paling mendarah daging. Nenek, orang tua, hingga kita pasti pernah merasakan yang namanya kerokan.

Bahkan, sejak zaman dahulu tidak hanya rakyat biasa, kalangan raja dan bangsawan di keraton pun juga melakukan kerokan saat mengalami masuk angin.

Baca Juga: Trik 20-20-20 untuk Kesehatan Mata, Yuk Ikuti Pedoman WHO dan AAP!

Alasan Kerokan Jadi Obat Andalan

Kerokan menjadi obat andalan karena bagi masyarakat tradisional, rona merah yang muncul di punggung dipercaya sebagai penanda sirkulasi darah yang menjadi lebih lancar.

Bahkan, jika saat kerokan bersendawa berkali-kali, hal tersebut dianggap sebagai tanda “angin yang keluar” dan proses penyembuhan yang mulai terjadi.

Medis Berkata Lain

Namun, dunia medis berkata lain. Dunia kedokteran tidak mengenal istilah “masuk angin”, dan kerokan pun tidak diakui sebagai metode pengobatan secara resmi.

Selain itu, bekas merah setelah kerokan hanya dianggap sebagai pecahnya pembuluh darah kapiler akibat gesekan.

Meski medis menyebut masuk angin sebagai mitos, kerokan tetap memiliki manfaat tertentu secara ilmiah, sehingga praktik ini masih bertahan hingga saat ini.

Baca Juga: Kasus Campak di Jawa Barat Capai Angka 158 Kasus, Garut dan Tasikmalaya Wilayah Tertinggi

Related Post

Tinggalkan komentar