Selamat Hari Puisi Nasional, Perayaan Mati Rasa bagi Chairil Anwar

Sekitarbandung.com – Penetapan Hari Puisi Nasional berawal dari kematian seorang pemuda yang bernama Chairil Anwar di umur 27 tahun pada 28 April 1949. Meski hidupnya

Dicky Wicaksono

Selamat Hari Puisi Nasional, Perayaan Mati Rasa bagi Chairil Anwar
Selamat Hari Puisi Nasional, Perayaan Mati Rasa bagi Chairil Anwar

Sekitarbandung.com – Penetapan Hari Puisi Nasional berawal dari kematian seorang pemuda yang bernama Chairil Anwar di umur 27 tahun pada 28 April 1949. Meski hidupnya singkat, tetapi pengaruhnya sangat besar.

Chairil besar di lingkungan dengan kehidupan dan berbagai budaya keras yang membuatnya tumbuh menjadi orang yang sangat kritis dan blak-blakan terhadap apa pun.

Saat datang ke Jakarta, ia melihat sastrawan lama masih sibuk menulis puisi menggunakan kata-kata yang sopan dan sangat mendayu-dayu.

Chairil merasa gaya tersebut sudah basi dan terasa kaku. Tanpa menunggu lama, ia mendobraknya dengan cara membuat puisi-puisi yang lugas, bahkan kasar tanpa tedeng aling-aling.

Tulis Puisi untuk Nenek

Saat di umur 20 tahun, ia menulis “Nisan” untuk neneknya. Puisi ini pula yang membuat kritikus H.B. Jassin menyorotinya karena terasa beda.

Menurutnya, puisi Chairil langsung ke pokok tema tanpa menggunakan kata-kata yang berputar-putar. Hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim pada zamannya.

NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu.
Keridhaanmu menerima segala tiba.
Tak kutahu setinggi itu di atas debu.
Dan duka maha tuan tak bertahta.

Oktober, 1942.

Baca Juga: 400 Ribu Buruh Diperkirakan Akan Hadir dalam Peringatan Hari May Day Tahun 2026 di Monas

Melepas Ungkapan “Binatang Jalang”

Pada zaman penjajahan Jepang, sudah lazim orang dipaksa untuk menurut dan berseragam. Chairil Anwar menulis puisi “Aku” yang menjadi penantang propaganda pada saat itu.

Idealisme ini ia bayar mahal dengan memilih hidup “ngepunk” di tengah sulitnya ekonomi perang. la sempat menjalankan bisnis rongsokan sampai berkali-kali tertangkap mencuri demi bertahan hidup.

Gaya hidup yang berantakan, makan seadanya, dan tidur secara berpindah-pindah dengan sanitasi buruk, akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya.

Infeksi usus dan TBC parah memaksa tubuhnya semakin lemah. Ironisnya, ia mati muda setelah menulis kalimat paling ikonik dalam sejarah: “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Dunia Sastra Indonesia

Sepeninggalnya, dunia sastra Indonesia diwarisi cara-cara baru melalui karya-karya yang ditinggalkannya. Ini sejalan dengan yang pernah ia teriakan:

“Sekali berarti, sudah itu mati.”

Seakan ia tidak membutuhkan umur panjang untuk menjadi abadi, karya-karyanya itulah yang membuatnya menjadi abadi.

Selamat Hari Puisi Nasional. Terima kasih, Chairil Anwar. Fisikmu mungkin berhenti di angka 27 tahun, tetapi keberanianmu mendobrak pakem bahasa akan terus hidup seribu tahun lagi.

Baca Juga: Hanya Modal Bersenjatakan Puisi, tetapi Suaranya Wiji Thukul Lebih Ditakuti daripada Desingan Peluru

Related Post

Tinggalkan komentar