Sekitarbandung.com – Rangkaian tragedi kecelakaan kereta api yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa pola berulang kali berupa tabrakan hebat di jalur tunggal dipicu oleh beberapa hal yang sama.
Entah itu mulai dari kelalaian manusia atau gangguan persinyalan, hingga dampak korban jiwa cukup signifikan. Lantas, apa saja kecelakaan kereta api terparah dalam sejarah Indonesia tersebut?
1. Bintaro I
Tragedi Bintaro I, pada 19 Oktober 1987 di Pondok Betung, menewaskan sekitar 156 orang saat dua kereta bertabrakan.
Hal tersebut dikarenakan kesalahan fatal petugas persinyalan, yang memberikan izin tanpa koordinasi, sehingga memicu tabrakan hebat di jalur tunggal padat penumpang.
2. KA Ratu Jaya
Kecelakaan KA Ratu Jaya, pada 2 November 1993 di Depok, terjadi akibat miskomunikasi PPKA di jalur tunggal dan mempertemukan dua KRL berlawanan arah.
Akibat dari insiden tersebut yaitu menewaskan 20 orang dan melukai ratusan, serta mendorong percepatan pembangunan jalur ganda.
3. Empu Jaya-GBM
Tragedi tabrakan adu banteng KA Empu Jaya dan KA Gaya Baru Malam Selatan pada 25 Desember 2001 di Ketanggungan Barat, Brebes.
Insiden ini menewaskan lebih dari 30 orang dan melukai puluhan lainnya, dipicu kelalaian masinis melanggar sinyal keselamatan.
4. KA Turangga
Kecelakaan KA Turangga dan Commuter Line Bandung Raya, pada 5 Januari 2024 di Cicalengka, dikarenakan adanya dugaan gangguan persinyalan di jalur tunggal.
Hal tersebut berakibat menewaskan empat petugas, melukai puluhan, serta menyebabkan gerbong anjlok dan perjalanan terganggu.
Peristiwa-peristiwa tersebut bukan hanya sekadar catatan kelam transportasi nasional, tetapi juga menjadi titik balik yang sangat penting dalam pembenahan sistem keselamatan.
Entah itu mulai dari peningkatan koordinasi operasional, modernisasi persinyalan, dan percepatan pembangunan jalur ganda guna mencegah tragedi yang serupa terulang kembali.

