Sekitarbandung.com – Sejarah tidak hanya ditulis oleh pemenang, tetapi juga oleh mereka yang memilih untuk melupakan. Lantas, tragedi pembantaian apa saja yang dilupakan oleh sejarah tersebut?
1. Genosida Dzungar (1755-1758)
Dinasti Qing memerintahkan penghancuran bangsa Dzungar di Asia Tengah. Ratusan ribu orang tewas akibat perang, kelaparan, dan penyakit. Sebuah peradaban nyaris lenyap.
2. Genosida Circassian (1864, Rusia)
Kekaisaran Rusia mengusir dan menewaskan banyak warga Circassian dari kawasan Kaukasus. Jutaan orang terdampak, dan sebagian besar populasi terpaksa hidup di pengasingan.
3. Pembantaian Nanjing (1937, China)
Pasukan Jepang membunuh banyak warga sipil dan tawanan perang di Nanjing selama beberapa minggu. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling kelam Perang Dunia II di Asia.
4. Pembantaian Sétif dan Guelma (1945, Aljazair)
Saat Eropa merayakan berakhirnya Perang Dunia II, pasukan Prancis menindak demonstrasi kemerdekaan di Aljazair dengan kekerasan besar. Korban tewas diperkirakan mencapai ribuan.
Baca Juga: Tragedi Semanggi 1998, Saat Soeharto Sudah Turun tetapi Mahasiswa Masih Ditembak Mati
5. Pembantaian Indonesia (1965-1966)
Setelah konflik politik besar, ratusan ribu hingga sekitar satu juta orang yang dituduh terkait komunisme dibunuh di berbagai wilayah Indonesia. Peristiwa ini masih menjadi topik sensitif hingga kini.
6. Genosida Bangladesh (1971)
Dalam waktu sekitar 9 bulan, operasi militer Pakistan di Pakistan Timur menewaskan jutaan warga Bengali menurut berbagai perkiraan, serta memicu kekerasan seksual massal. Tragedi ini lama kurang mendapat perhatian dunia.
7. Pembantaian Wiriyamu (1972, Mozambik)
Pasukan kolonial Portugal dituduh membantai warga sipil di beberapa desa saat perang kemerdekaan Mozambik. Portugal sempat membantah tuduhan tersebut selama bertahun-tahun.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa banyak tragedi kemanusiaan besar yang tidak selalu mendapatkan perhatian global yang sepadan, meskipun dampaknya begitu luas dan mendalam bagi jutaan manusia.
Dengan memahami kembali sejarah-sejarah kelam ini, diharapkan masyarakat dunia dapat lebih waspada terhadap potensi pelanggaran kemanusiaan, serta mendorong upaya keadilan dan kemanusiaan.
Baca Juga: Mengenang 18 Tahun Tragedi AACC “Sabtu Kelabu” di Jalan Braga Bandung

