Demi Tonton Pribumi Nusantara yang Dipajang Layaknya Hewan, Jutaan Orang Eropa Rela Antre Tiket

Sekitarbandung.com – Pada abad ke-19, bangsa Eropa selalu membanggakan diri sebagai pusat peradaban dan moral dunia. Namun di balik jas rapi dan gaun mewah mereka,

Dicky Wicaksono

Demi Tonton Pribumi Nusantara yang Dipajang Layaknya Hewan, Jutaan Orang Eropa Rela Antre Tiket
Demi Tonton Pribumi Nusantara yang Dipajang Layaknya Hewan, Jutaan Orang Eropa Rela Antre Tiket

Sekitarbandung.com – Pada abad ke-19, bangsa Eropa selalu membanggakan diri sebagai pusat peradaban dan moral dunia. Namun di balik jas rapi dan gaun mewah mereka, tersimpan sebuah hiburan yang sangat biadab.

Penjajah tidak hanya merampok kekayaan alam Nusantara, tetapi juga merampas kemanusiaan leluhur kita melalui pameran Kebun Binatang Manusia (Human Zoo).

Pada tahun 1883, Belanda menggelar pameran kolonial raksasa di Amsterdam. Bukan hanya sekadar memamerkan rempah atau hasil bumi, mereka membawa ratusan penduduk asli Nusantara.

Para pribumi tersebut diangkut melintasi samudra hanya untuk dijadikan sebuah “koleksi pajangan” yang bernapas di tengah hiruk-pikuk elit Eropa.

Setibanya di Belanda, leluhur kita ditempatkan di replika kampung yang dibatasi pagar dan parit, persis seperti tata letak kandang satwa. Jutaan orang Eropa rela membayar tiket masuk demi menonton mereka.

Bahkan, banyak pengunjung elit ini yang tertawa sambil melempar koin dan sisa makanan ke dalam pagar, layaknya memberikan makan primata.

Siksaan paling kejam justru datang dari panitia pameran. Demi memuaskan fantasi pengunjung bule akan eksotisme yang “liar dan otentik”, para pribumi ini dilarang menggunakan jaket.

Baca Juga: Demi Diakui sebagai Negara, Indonesia Dipaksa Bayar Utang Biaya Perang Militer Belanda

Mereka dipaksa terus menggunakan pakaian tradisional yang tipis meski cuaca Eropa sedang sangat ekstrem dan sangat menusuk tulang.

Akibat cuaca beku dan perlakuan tidak manusiawi tersebut, banyak pribumi yang akhirnya tumbang terkena radang paru-paru (pneumonia) dan mati kedinginan.

Tragisnya, jasad mereka tidak pernah dikembalikan ke tanah air. Mereka dibuang ke pemakaman massal begitu saja tanpa adanya nama di sudut kota-kota Eropa.

Bagi mereka yang tewas, penderitaan rupanya belum berakhir. Sebagian jasad pribumi yang mati ini tulang dan tengkoraknya tidak dikuburkan.

Pihak penyelenggara justru mengawetkannya untuk dijadikan bahan penelitian anatomi dan tengkorak oleh para ilmuwan rasialis Eropa saat itu.

Praktik gila ini terus berlangsung di berbagai negara Barat hingga pertengahan abad ke-20. Hal ini adalah bukti nyata dari arogansi kolonialisme.

Bangsa yang dahulu mengklaim dirinya paling beradab, ternyata memiliki bentuk hiburan yang paling merendahkan martabat manusia di sepanjang catatan sejarah.

Baca Juga: Belanda Terapkan Bernafas Harus Bayar dan Potong Ayam Sendiri Bisa Berujung Kurungan Penjara

Related Post

Tinggalkan komentar