Sekitarbandung.com – Pernah tidak kamu membuka HP hanya untuk cek jam, tetapi tiba-tiba sudah scrolling media sosial selama 2 jam? Itu bukan kebetulan, tetapi merupakan rekayasa psikologi.
Pada tahun 1930-an, psikolog B.F. Skinner membuat Skinner Box untuk tikus. Setiap tikus menekan tuas, ia akan mendapatkan makanan dan konsep tersebut dikenal dengan nama Operant Conditioning.
Awalnya sangat simpel, yaitu aksi tertentu akan menghasilkan hadiah. Namun, Skinner menemukan satu rahasia besar yang membuat tikus menjadi kecanduan menekan tuas.
Rahasianya yaitu Variable Reward. Jika makanan keluar secara acak atau tidak pasti, maka tikus akan menekan tuas secara terus-menerus karena rasa penasaran.
Media sosial merupakan Skinner Box versi modern. Tuasnya adalah layar ponsel kamu, sedangkan hadiahnya berupa konten menarik atau notifikasi yang muncul di beranda.
Baca Juga: 6 Senjata Militer Masa Depan yang Saat ini Sedang Dikembangkan
Fitur “Pull-to-Refresh” didesain sedemikian rupa mirip seperti mesin slot. Kita menarik layar, menunggu beberapa saat, lalu muncul konten baru yang bisa membuat senang.
Setiap ada notifikasi merah atau likes, otak akan melepaskan dopamin. Hal itulah yang membuat kita merasa senang sesaat dan ingin kembali lagi.
Algoritma bertugas menjadi “penjaga kotak”. Sistem tersebut mempelajari pola perilaku kita untuk menentukan kapan harus memberikan hadiah agar pengguna tidak pergi begitu saja.
Di dunia digital seperti sekarang, kita bukan hanya sekadar pelanggan, tetapi juga menjadi produknya. Waktu dan perhatian kita adalah komoditas yang sangat mahal.
Inilah mengapa banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial yang dirancang untuk terus menarik perhatian, sehingga membuat pengguna semakin sulit lepas dari kebiasaan scrolling tanpa henti.
Baca Juga: Waspada! Digital Kidnapping Mulai Mengincar Anak di Media Sosial

