Menolak Tunduk Serahkan Senjata, Polisi ini Pilih Jalan Kematian daripada Jadi Budak Penjajah

Sekitarbandung.com – Di tengah keheningan Indonesia yang baru saja merdeka pada Agustus 1945, nyawa republik justru digantungkan pada pundak sebuah kesatuan kecil bernama Tokubetsu Keisatsutai

Dicky Wicaksono

Menolak Tunduk Serahkan Senjata, Polisi ini Pilih Jalan Kematian daripada Jadi Budak Penjajah
Menolak Tunduk Serahkan Senjata, Polisi ini Pilih Jalan Kematian daripada Jadi Budak Penjajah

Sekitarbandung.com – Di tengah keheningan Indonesia yang baru saja merdeka pada Agustus 1945, nyawa republik justru digantungkan pada pundak sebuah kesatuan kecil bernama Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) di Surabaya.

Sang komandan, Moehammad Jasin, dihadapkan pada jalan buntu, yaitu menyerahkan senjata kepada Sekutu atau melawan ribuan tentara militer Jepang yang siap membantai mereka kapan saja.

Namun pada pagi yang dingin, 21 Agustus 1945, Jasin mengambil jalan kematian yang paling terhormat. Ia memberanikan diri berdiri di bawah bayang-bayang moncong senapan Jepang.

Jasin mengumpulkan ratusan pasukannya di halaman markas. Hari itu, ia memutuskan untuk merobek rasa takut. Ia menurunkan bendera penjajah dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Dengan suara bergetar namun menembus relung sanubari pasukannya, Jasin membacakan sebuah proklamasi tandingan yang sangat berbahaya:

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia.”

Pada detik itu juga, mereka mencabut sumpah setia kepada penjajah dan bersiap menjadi tumbal pertama bagi negara.

Baca Juga: 14 Tahun Terpisah Jeruji Besi, Kisah Kesetiaan Pramoedya Ananta Toer dengan Istri Sangat Pilu

Jasin mengetahui bahwa sumpah saja tidak bisa menahan peluru. Ia memimpin pasukannya membobol gudang senjata militer Jepang, lalu membagikan ribuan pucuk senapan itu secara gratis kepada arek-arek Suroboyo.

Tanpa senjata rampasan yang dibagikan Jasin, perlawanan epik rakyat Surabaya yang memerah darah pada tanggal 10 November mungkin tidak akan pernah mempunyai daya gempur.

Dari laras senjata dan keberanian Moehammad Jasin inilah menjadi cikal bakal lahirnya Brigade Mobil (Brimob) yang bukan hanya sekadar menjaga ketertiban kota.

Namun, mereka adalah pasukan tempur di garis depan yang menembus hujan peluru artileri Inggris serta mempertahankan kemerdekaan dengan darah dan nyawa saat TNI belum sepenuhnya terbentuk.

Sejarah sering kali pelupa. Nama Bapak Brimob Polri, Moehammad Jasin, perlahan menguap dan jarang disebut dalam riuh tepuk tangan kemerdekaan.

Padahal, jika bukan karena keberaniannya menantang maut di pagi yang sunyi itu, mungkin bendera kita tidak akan pernah lagi mempunyai kesempatan untuk berkibar.

Komjen Pol (Purn) M. Jasin baru dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2015 lalu.

Baca Juga: Berani Menentang Tambang Ilegal, Petani di Lumajang ini justru Tewas Dikeroyok Preman Suruhan Kepala Desa

Related Post

Tinggalkan komentar