Jadi Lulusan Terbaik Kampus Eropa, tetapi Dilarang untuk Pulang ke Indonesia

Sekitarbandung.com – Belakangan ini, linimasa ramai membahas tentang para pemikir cerdas dan inovator di Indonesia yang seolah “disingkirkan” atau tidak mendapatkan tempat di negerinya sendiri.

Dicky Wicaksono

Jadi Lulusan Terbaik Kampus Eropa, tetapi Dilarang untuk Pulang ke Indonesia
Jadi Lulusan Terbaik Kampus Eropa, tetapi Dilarang untuk Pulang ke Indonesia

Sekitarbandung.com – Belakangan ini, linimasa ramai membahas tentang para pemikir cerdas dan inovator di Indonesia yang seolah “disingkirkan” atau tidak mendapatkan tempat di negerinya sendiri.

Namun, tahukah kamu? Jika kita memutar waktu ke awal masa Orde Baru, bangsa ini pernah melakukan “bunuh diri intelektual” terbesar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Beasiswa ke Eropa

Cerita bermula pada awal tahun 1960-an. Saat itu, Indonesia sedang haus akan kemajuan. Soekarno menyeleksi ribuan pemuda-pemudi paling jenius dari seluruh pelosok negeri dan memberikan beasiswa Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID).

Setelah itu, mereka diterbangkan ke berbagai negara maju di Eropa. Misi mereka murni dan mulia, yaitu menyerap ilmu teknik, kedokteran, dan nuklir tingkat tinggi, lalu pulang untuk membangun kejayaan Nusantara.

Impian Hancur

Namun, impian tersebut hancur lebur pada akhir tahun 1965. Kondisi politik di Tanah Air bergejolak hebat dan kekuasaan beralih ke tangan Orde Baru.

Rezim baru segera melakukan pembersihan (skrining) massal. Para mahasiswa jenius di luar negeri tiba-tiba dipanggil oleh kedutaan masing-masing dan disodori sebuah surat pernyataan yang berisi kecaman terhadap rezim sebelumnya.

Banyak dari mahasiswa tersebut merupakan akademisi murni yang tidak tahu-menahu tentang huru-hara politik di Jakarta. Mereka menolak menandatangani surat yang dianggap cacat hukum dan sekadar alat penundukan.

Akibatnya sangat fatal. Hanya karena mempertahankan integritas berpikir, paspor mereka dicabut pada hari itu juga. Dalam semalam, ribuan tunas bangsa yang cerdas ini resmi menjadi stateless atau manusia tanpa kewarganegaraan.

Baca Juga: Fenomena Kicau Mania di Indonesia terhadap Budaya Digital, Koreografi, dan Adopsi Simbol

Waruno Mahdi

Agar sejarah ini tidak dikira fiksi, mari melihat kisah nyata Waruno Mahdi, seorang mahasiswa jenius yang dikirim untuk belajar kimia ke Moskow. Karena paspornya dicabut pada tahun 1965, ia terkatung-katung dan tidak bisa pulang.

Namun, otak emas tetaplah emas. Ia akhirnya pindah ke Jerman dan direkrut menjadi ilmuwan andalan di Fritz Haber Institute of the Max Planck Society, salah satu lembaga riset paling bergengsi di dunia.

Perbedaan Kontras dengan Indonesia

Waruno Mahdi hanyalah satu dari ribuan contoh. Puluhan tahun kemudian, para pemuda yang dibuang negaranya sendiri ini tumbuh menjadi profesor, insinyur, dan teknokrat kelas dunia yang memajukan peradaban negara asing di Eropa.

Sementara itu, Indonesia yang mengusir mereka justru harus terus merangkak mengejar ketertinggalan teknologi. Perbandingan tersebut menjadi ironi yang sangat besar bagi perjalanan bangsa.

Hari ini, kita sering mengeluh tentang fenomena brain drain, yaitu ketika banyak orang pintar Indonesia memilih berkarier di luar negeri. Namun, kita melupakan satu hal.

Pada puluhan tahun silam, karena ego kekuasaan dan paranoia politik, negara ini pernah dengan sengaja mengusir ribuan otak emas terbaiknya, mengunci rapat pintu rumah, dan membiarkan mereka menua dalam kerinduan yang tidak pernah tuntas.

Baca Juga: Charles Darwin Disebut Bapak Evolusi? Padahal Ada Ilmuwan yang Menemukan Konsep Serupa Saat Tinggal di Indonesia

Related Post

Tinggalkan komentar