Inilah Alasan Mengapa Telinga Manusia Mendengar Suara Kucing Berbeda di Setiap Negara

Sekitarbandung.com – Kamu sedang jalan bersama teman yang berasal dari Jepang, lalu ada kucing lewat dan menyapa. Telingamu pasti akan mendengar suara itu “Meong”. Namun,

Dicky Wicaksono

Inilah Alasan Mengapa Telinga Manusia Mendengar Suara Kucing Berbeda di Setiap Negara
Inilah Alasan Mengapa Telinga Manusia Mendengar Suara Kucing Berbeda di Setiap Negara

Sekitarbandung.com – Kamu sedang jalan bersama teman yang berasal dari Jepang, lalu ada kucing lewat dan menyapa. Telingamu pasti akan mendengar suara itu “Meong”.

Namun, telinga temanmu justru mendengarnya “Nyan”. Lantas, telinga temanmu budeg gitu? Hush! Jangan bilang kayak gitu. Tidak sopan!

Suara Abstrak

Suara hewan sebenarnya merupakan suara mentah dari alam yang bersifat abstrak. Masalahnya, otak manusia bekerja dengan mencari pola agar bisa memahaminya.

Saat mendengarkan suara kucing yang abstrak tadi, otak kita akan “memaksanya” masuk ke dalam memori tentang kata dan suara yang sudah kita kenal sejak kecil.

Proses penerjemahan suara alam menjadi kata-kata inilah yang dikenal sebagai onomatope.

Stok Huruf dalam Memori

Otak manusia hanya bisa menerjemahkan suara alam menggunakan stok huruf yang tersimpan di dalam memori.

Orang Jepang keukeuh mendengarkan “Nyan”. Sementara kita tetap mendengarnya sebagai bunyi “Meong”.

Orang Indonesia mempunyai stok bunyi “NG”. Jadi, saat kucing bersuara, otak kita langsung melabelinya sebagai “Meong!”.

Namun, di kamus orang Jepang, bunyi “NG” itu tidak ada. Yang ada justru bunyi “NYA”.

Akhirnya, otak mereka “memaksa” suara kucing tersebut masuk ke label yang paling mirip di kepala mereka, yaitu “Nyan”.

Baca Juga: 5 Cara Merawat Kucing agar Punya Umur Panjang dan Tetap Sehat

Kompak Suara Hewan Besar

Lucunya, telinga manusia akan kompak secara serentak ketika mendengarkan suara hewan besar.

Prof. Derek Abbott menemukan fakta bahwa suara hewan besar seperti sapi (moo) atau singa (roar) terdengar hampir sama di seluruh dunia.

Suara hewan besar mempunyai frekuensi rendah, panjang, dan menghantam telinga dengan sangat kuat. Itulah yang membuat otak kita tidak perlu mencari label yang aneh-aneh.

Suara Kucing Berbeda-beda

Hewan kecil pada umumnya mempunyai suara bernada tinggi, seperti kucing. Inilah alasan mengapa setiap negara memiliki tafsiran suara yang berbeda-beda.

  • Indonesia: meong.
  • Jepang: nyan.
  • Inggris / AS: meow.
  • Prancis: miaou.
  • Korea Selatan: yaong.
  • Turki: miyav.
  • Arab / Yunani: miau.

Di alam liar, kucing dewasa hampir tidak pernah mengeong kepada sesama kucing. Mereka lebih sering menggunakan bahasa tubuh atau bau. Mungkin kamu akan bertanya:

“Masa sih? Kucing di rumahku kalau berantem setiap malam berisik banget mengeongnya!”

Eits, bedain ya! Suara berisik itu merupakan teriakan perang atau mereka sedang curhat sesama kucing. Namun, suara “meong” yang lembut hampir tidak pernah digunakan kucing dewasa kepada sesamanya.

Suara “meong” yang manja tersebut hanyalah taktik kucing kepada manusia. Tujuannya yaitu meminta jatah makan. Main watak itu. Mereka memang jago nge-prank kok.

Baca Juga: Momen Haru Kucing ini Temani Pemiliknya selama 13 Tahun sampai Lulus jadi Dokter Hewan tetapi Endingnya Justru Bikin Sedih

Related Post

Tinggalkan komentar