Sekitarbandung.com – Bagi generasi yang lahir sekaligus bersekolah pada era 70-an hingga 90-an, pelajaran sejarah di kelas seolah hanya memiliki satu jalan cerita.
Sebuah narasi tunggal yang menggambarkan militer selalu hadir sebagai penyelamat utama bangsa dari jurang kehancuran. Namun, tahukah kamu dari mana asal mula cerita yang sangat seragam tersebut?
Pasca pergolakan berdarah pada tahun 1965, kekuasaan Orde Baru yang dipimpin Soeharto membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan senjata untuk mempertahankan kekuasaan.
Mereka membutuhkan “pembenaran” di mata rakyat. Cara paling ampuh untuk menguasai masa depan sebuah bangsa adalah dengan mengendalikan cara masyarakat mengingat masa lalunya.
Pada awal tahun 1970-an, pemerintah menginisiasi sebuah proyek besar berupa penyusunan buku induk bernama “Sejarah Nasional Indonesia” (SNI).
Proyek historiografi tersebut resmi dikomandoi oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto. Misinya sangat jelas, yaitu menyusun pedoman sejarah yang dianggap sah dan mutlak serta tidak boleh dibantah oleh siapa pun.
Baca Juga: Jadi Lulusan Terbaik Kampus Eropa, tetapi Dilarang untuk Pulang ke Indonesia
Dalam proses penyusunannya, SNI sangat menonjolkan peran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam setiap babak penting perebutan kemerdekaan hingga penumpasan pemberontakan.
Sebaliknya, peran para tokoh sipil, politisi, dan terutama loyalis Orde Lama (Soekarnois) perlahan dikerdilkan, dipinggirkan, bahkan dihitamkan dari catatan sejarah.
Buku SNI kemudian disahkan menjadi satu-satunya pedoman wajib dalam kurikulum di seluruh sekolah di penjuru Nusantara. Guru tidak diizinkan menggunakan versi lain.
Selama lebih dari 30 tahun, jutaan anak Indonesia dibentuk oleh satu versi kebenaran milik penguasa dan menciptakan legitimasi politik yang sangat kokoh bagi rezim Orde Baru.
Baru setelah angin Reformasi berhembus pada tahun 1998, para sejarawan independen mulai berani membongkar ulang catatan-catatan tersebut. Berbagai versi sejarah dari sudut pandang rakyat dan tokoh sipil mulai bermunculan.
Bangsa ini akhirnya tersadarkan bahwa sejarah bukanlah kitab suci yang tidak bisa dibantah, melainkan catatan yang sering kali ditulis oleh para pemenang peperangan.
Baca Juga: Semua Soroti Hutan Papua, namun Tidak Banyak Orang Tahu Sejarah Awal Eksploitasinya

