Sekitarbandung.com – Dalam buku-buku pelajaran, nama Muhammad Yamin selalu disebut sebagai salah satu pahlawan perumus dasar negara dan tokoh kunci Kongres Pemuda II.
Namun, peran Yamin jauh lebih besar dan misterius daripada sekadar merumuskan teks. Ia merupakan sosok yang merajut “imajinasi” jutaan manusia dari berbagai suku agar merasa menjadi satu bangsa, Indonesia.
Majapahit sebagai Akar Sejarah
Untuk menyatukan bangsa yang baru lahir, Yamin menyadari bahwa Indonesia membutuhkan akar sejarah yang kuat dan membanggakan. Ia menatap ke masa lalu dan menemukan Majapahit.
Yamin merupakan tokoh yang paling getol dalam mempopulerkan narasi bahwa Indonesia merupakan pewaris sah kejayaan Majapahit dan Sriwijaya.
Baginya, sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi alat politik untuk membangun rasa percaya diri bangsa yang lama dijajah.
Yamin Klaim Wajah Gajah Mada
Tidak ada satu pun catatan sejarah atau arca yang pasti mengenai rupa sang Mahapatih.
Namun, pada 1940-an, Yamin menemukan sebuah celengan kepingan terakota di Trowulan dan mengklaimnya sebagai wajah Gajah Mada.
Uniknya, banyak sejarawan dan tokoh sezamannya yang menyadari bahwa wajah terakota tersebut ternyata sangat mirip dengan wajah Muhammad Yamin sendiri.
Baca Juga: Asal-usul Dana Sapi Kurban Setiap Idul Adha yang Gunakan Label “Bantuan Presiden”
Kejeniusan Yamin
Kejeniusan Yamin lainnya terlihat pada Kongres Pemuda. Saat itu, mayoritas peserta merupakan orang Jawa. Namun, Yamin memilih tidak mengusulkan bahasa sukunya sendiri maupun bahasa Jawa yang dominan.
Ia merajut bahasa Melayu menjadi dasar lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sebuah visi politik luar biasa yang menyelamatkan Indonesia dari potensi perpecahan etnis di masa depan.
Kritik terhadap Yamin
Banyak sejarawan modern yang mengkritik Yamin karena dianggap terlalu sering mencampuradukkan fakta sejarah dengan imajinasi dan romantisme nasionalismenya.
Namun, di tengah kondisi negara yang baru merdeka dan membutuhkan identitas yang kuat, “mitos pemersatu” yang diciptakan Yamin menjadi sebuah mahakarya politik.
Tanpa imajinasi historis Yamin, Indonesia mungkin tidak akan memiliki pijakan identitas sekuat hari ini.
Baca Juga: Misteri Patung Pancoran yang Dibangun Gunakan Uang Soekarno dan Simpan Kisah Pilu

