Sekitarbandung.com – Pada 10 tahun lalu, tepatnya 28 Mei 2016, seekor gorila subspesies western lowland bernama Harambe yang berusia 17 tahun, penghuni kebun binatang Cincinnati, Amerika Serikat, ditembak mati oleh petugas.
Petugas terpaksa mengambil keputusan tersebut demi menyelamatkan nyawa seorang anak berusia 4 tahun bernama Isaiah Dickerson.
Ia memanjat pagar pembatas, kemudian jatuh sejauh 4,5 meter ke sebuah parit dengan ketinggian air sekitar 30 cm di kandang Harambe.
Obat Bius Mustahil
Cincinnati Zoo mengatakan bahwa penggunaan obat bius mustahil untuk dilakukan karena efeknya membutuhkan waktu beberapa menit.
Selain itu, penggunaan obat bius justru dikhawatirkan akan membuat Harambe semakin agresif. Sementara itu, Harambe telah menyeret Isaiah ke sana kemari dalam situasi yang sangat mencekam.
Kejadian tersebut terekam oleh video pengunjung dan diunggah ke media sosial. Setelah itu, insiden tersebut langsung menjadi sensasi internet dan melahirkan banyak diskusi baru, yang di antaranya sebagai berikut:
- Parenting: Orang tua dianggap lalai. Meski demikian, ibu Isaiah bebas dari tuntutan hukum. Jaksa menyebut sang ibu tengah fokus mengurus tiga anaknya yang lain.
- Keamanan: Pagar pengaman Cincinnati Zoo yang selalu lulus uji inspeksi ternyata tidak menjamin keamanan dalam berbagai skenario.
- Meme: Sebagian netizen memanfaatkan insiden Harambe menjadi konten meme sehingga mengundang pro dan kontra baru.
- Pro kontra penembakan: Apa yang sebaiknya dilakukan agar anak dan Harambe sama-sama selamat?
Baca Juga: Negara Nauru, Kaya Raya karena Kotoran Burung Camar Laut dan Berakhir Tragis
Setuju dengan Penembakan
Fakta menariknya, Jane Goodall, salah satu peneliti primata dunia, saat itu mengatakan bahwa dirinya setuju dengan penembakan tersebut.
Menurutnya, tidak ada satu pun orang yang bisa mengetahui intensi Harambe terhadap Isaiah. Dalam situasi hidup dan mati, keputusan sulit memang harus dibuat.
Di kesempatan yang sama, Jane juga menyinggung masalah yang lebih besar, yaitu kebun binatang harus mempunyai kontribusi langsung terhadap satwa liar.
Dengan kata lain, ia tidak anti terhadap kebun binatang. Namun, apa yang dikatakannya adalah sebagai berikut:
“Sekadar menyimpan spesimen satwa untuk masa depan, tanpa di alam liar, adalah sikap pesimistis dan gambaran suram tentang masa depan tanpa harapan.”
Animal Welfare
Pada masanya, insiden Harambe memang menghidupkan kembali isu animal welfare (kesejahteraan satwa) yang masih diperjuangkan hingga hari ini.
Kepergian Harambe seakan menjadi martir bagi peradaban kesejahteraan dan perlindungan satwa.

