Sekitarbandung.com – Dari dulu, kita mungkin suka bingung mengapa pemerintah selalu merasa dirinya benar dan sangat susah dalam menerima masukan dari masyarakat.
Ternyata di balik itu semua ada istilah psikologis yang mendasarinya. Lantas, istilah psikologis apa saja yang dimaksud tersebut?
Confirmation Bias
Dalam psikologi, ada istilah Confirmation Bias. Ketika seseorang terlalu lama berada di lingkaran kekuasaan, maka ia perlahan hanya ingin mendengar hal-hal yang membuat dirinya merasa benar.
Kritik mulai terasa seperti serangan, data yang bertentangan dianggap ancaman, dan orang-orang yang setuju justru semakin didekatkan.
Akhirnya, mereka hidup di ruangan yang dipenuhi oleh gema suara sendiri.
Cognitive Dissonance
Mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah bagi manusia, apalagi bagi seseorang yang memegang kekuasaan besar.
Dalam psikologi, kondisi ini disebut Cognitive Dissonance, ketika kenyataan mulai bertabrakan dengan keyakinan yang selama ini mereka bangun.
Dan bagi sebagian penguasa, mempertahankan narasi terasa lebih mudah dibandingkan dengan menerima bahwa kebijakannya mungkin telah melukai rakyatnya sendiri.
Groupthink
Semakin tinggi kekuasaan seseorang, maka semakin kecil kemungkinan ada orang di sekitarnya yang berani berkata, “Anda salah.”
Fenomena ini disebut Groupthink, saat semua orang dipaksa terlihat kompak, perbedaan pendapat perlahan hilang, dan bahkan kritik dianggap merusak stabilitas.
Hingga pada akhirnya, satu ruangan dipenuhi oleh orang pintar yang bisa kehilangan kemampuan untuk berpikir jujur.
Baca Juga: Harimau Sumatra Terancam Punah, Empat Bayinya Lahir di Inggris Jadi Kabar Baik
Alasan Kritik Kadang Dibungkam
Karena kritik memiliki satu hal yang paling ditakuti kekuasaan, yaitu kemampuan untuk membuka kesadaran publik.
Dan ketika sebuah kekuasaan mulai terlalu takut pada kritik, mereka perlahan tidak lagi sibuk mencari kebenaran, melainkan sibuk menjaga citra bahwa mereka selalu benar.
Di titik itulah, membungkam sering terasa lebih nyaman dibandingkan dengan mendengarkan.
Alasan Pendukung Tetap Membela
Manusia tidak selalu mempertahankan sesuatu karena itu benar, tetapi kadang manusia mempertahankan sesuatu karena sudah terlalu emosional terikat dengannya.
Dalam psikologi politik, ini disebut Identity-Protective Cognition. Ketika kritik terhadap pemimpin terasa seperti kritik terhadap dirinya sendiri, maka fakta perlahan kalah oleh loyalitas.
Dan di situlah sebuah bangsa mulai sulit dalam membedakan mana yang namanya dukungan dan mana yang namanya fanatisme.
Pada akhirnya, berbagai konsep psikologi tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan mempertahankan keyakinan bukan hanya terjadi pada individu, tetapi juga dapat muncul dalam kelompok, organisasi, hingga struktur kekuasaan yang besar.
Oleh karena itu, ruang kritik, perbedaan pendapat, dan keterbukaan terhadap masukan menjadi hal penting agar keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada keyakinan sendiri, tetapi juga pada kenyataan yang terjadi di masyarakat.
Baca Juga: Asal-usul Dana Sapi Kurban Setiap Idul Adha yang Gunakan Label “Bantuan Presiden”

