Sekitarbandung.com – Pada awal masa pendudukan Jepang, ribuan pemuda desa mendaftar menjadi Romusha secara sukarela. Mesin propaganda Jepang bekerja dengan sangat efektif.
Mereka membingkai program ini bukan sebagai kerja kasar, melainkan sebagai tugas suci. Para peserta diberi gelar kehormatan seperti “Prajurit Ekonomi” atau “Pahlawan Pekerja”.
Pemberangkatan dengan Perayaan
Pemberangkatan para pemuda ini sering kali tidak diwarnai isak tangis, melainkan perayaan. Mereka dilepas oleh kepala desa.
Selain itu, keberangkatan mereka juga diiringi pawai, lagu-lagu penyemangat, serta kibaran bendera Hinomaru yang disandingkan dengan bendera Merah Putih.
Mereka dijanjikan gaji yang layak, makanan bergizi, dan kebanggaan karena telah membantu “Saudara Tua” memenangkan Perang Asia Timur Raya.
Ilusinya Hancur
Namun, ilusi tersebut hancur berkeping-keping begitu mereka tiba di lokasi kerja, mulai dari pembangunan jalur Kereta Api Saketi-Bayah di Banten hingga pengiriman tenaga kerja ke Burma (Myanmar) dan Thailand.
Gelar “pahlawan” berubah menjadi budak kerja paksa. Mereka dipaksa bekerja belasan jam setiap hari menembus hutan dan membelah gunung dengan ransum makanan yang sangat minim.
Baca Juga: Patung Pancoran Berdiri Gagah di Jakarta, di Baliknya Ada Air Mata Soekarno
Penghancuran Dokumen
Kondisi kamp yang sangat buruk memicu wabah malaria, disentri, dan kelaparan massal. Ratusan nyawa melayang setiap harinya.
Lebih kejam lagi, menjelang kekalahan Jepang pada tahun 1945, banyak dokumen catatan sipil dan daftar nama pekerja Romusha sengaja dibakar atau dihancurkan oleh militer Jepang untuk menghilangkan jejak kejahatan perang mereka.
Menghilang Begitu Saja
Dari jutaan orang yang dikerahkan sebagai Romusha, ratusan ribu di antaranya tidak pernah kembali dan lokasi makam mereka tidak pernah diketahui.
Ironisnya, karena status mereka hanyalah rakyat biasa tanpa pangkat militer atau jabatan politik, nama-nama mereka jarang diabadikan dalam monumen megah pahlawan nasional.
Dengan kata lain, mereka meninggal dalam kesunyian dan menjadi korban dari manisnya manipulasi informasi.
Baca Juga: Misteri Patung Pancoran yang Dibangun Gunakan Uang Soekarno dan Simpan Kisah Pilu

