Patung Pancoran Berdiri Gagah di Jakarta, di Baliknya Ada Air Mata Soekarno

Sekitarbandung.com – Patung Pancoran dibangun untuk melambangkan kebebasan terbang menembus langit. Namun, di saat yang sama, sang konseptor, Soekarno, justru berada dalam status tahanan politik.

Dicky Wicaksono

Patung Pancoran Berdiri Gagah di Jakarta, di Baliknya Ada Air Mata Soekarno
Patung Pancoran Berdiri Gagah di Jakarta, di Baliknya Ada Air Mata Soekarno

Sekitarbandung.com – Patung Pancoran dibangun untuk melambangkan kebebasan terbang menembus langit. Namun, di saat yang sama, sang konseptor, Soekarno, justru berada dalam status tahanan politik.

Akibatnya, pendanaan negara terhenti dan proyek pembangunan pun ikut terhambat. Dalam kondisi kesehatan yang terus menurun pada sekitar tahun 1964-1965, Soekarno kerap meminta diantar melintasi kawasan Pancoran.

Soekarno Jual Mobil

Inilah sebabnya, demi menyelamatkan martabat proyek tersebut, Soekarno menjual mobil Buick pribadinya seharga Rp1,75 juta dan menyerahkan hasil penjualannya kepada sang pematung.

Tragisnya, hingga proyek ini rampung, negara masih menyisakan utang sebesar Rp6 juta kepada sang pematung. Sebuah piutang sejarah yang tidak pernah terlunasi hingga sang maestro wafat.

Negara Pilih Diam

Pada Juni 1970, Soekarno meninggal dunia. Sejak saat itu, negara memilih diam dan tidak pernah menggelar peresmian formal.

Bahkan, tidak pernah ada penjelasan resmi mengenai makna monumen tersebut maupun informasi lanjutan yang disampaikan kepada publik.

Baca Juga: Misteri Patung Pancoran yang Dibangun Gunakan Uang Soekarno dan Simpan Kisah Pilu

Monumen Dirgantara ke Tugu Pancoran

Pemerintah saat itu lebih memilih bungkam mengenai patung ini, sehingga nama resmi “Monumen Dirgantara” perlahan menghilang dari ingatan publik dan kalah populer dibandingkan sebutan lokalnya, Tugu Pancoran.

Akibat minimnya penjelasan mengenai makna aslinya, berbagai tafsir klenik pun bermunculan. Mulai dari mitos harta karun hingga arah gaib, semuanya lahir karena adanya “kekosongan narasi” dari negara.

Arah tangan patung tersebut sebenarnya bukan menunjuk ke lokasi emas gaib, melainkan membidik tepat ke arah landasan pacu lama Bandara Internasional Kemayoran.

Sebagai informasi tambahan, pada masa itu Kemayoran merupakan gerbang langit pertama Indonesia.

Baca Juga: Niat Bunuh Soekarno, Granat ini Justru Renggut Nyawa Anak-anak Tidak Berdosa

Related Post

Tinggalkan komentar