Kisah Wartawan Penakluk Dua Rezim, Berani Bongkar Skandal Era Soekarno

Sekitarbandung.com – Sebagai pendiri sekaligus pemimpin redaksi harian Indonesia Raya dan seorang wartawan, Mochtar Lubis mengubah wajah jurnalistik nasional. Baginya, koran bukan hanya sekadar alat

Dicky Wicaksono

Kisah Wartawan Penakluk Dua Rezim, Berani Bongkar Skandal Era Soekarno
Kisah Wartawan Penakluk Dua Rezim, Berani Bongkar Skandal Era Soekarno

Sekitarbandung.com – Sebagai pendiri sekaligus pemimpin redaksi harian Indonesia Raya dan seorang wartawan, Mochtar Lubis mengubah wajah jurnalistik nasional.

Baginya, koran bukan hanya sekadar alat penyebar berita, melainkan senjata yang efektif untuk mengawasi dan mengkritik penguasa yang melenceng.

Mimpi Buruk Koruptor dan Pejabat Nakal

Di bawah kendalinya, Indonesia Raya menjadi mimpi buruk bagi para koruptor dan pejabat nakal. Mochtar Lubis tidak pandang bulu.

Ia berani membongkar skandal korupsi besar dan skandal perkawinan pejabat tinggi negara secara blak-blakan.

Nyali investigasinya membuat oplah korannya meroket, sekaligus mengundang murka istana.

Berbuah Petaka

Ketajamannya berbuah petaka. Kritik kerasnya terhadap rezim Demokrasi Terpimpin membuat Presiden Soekarno geram.

Sejak akhir tahun 1956, Mochtar Lubis dijadikan tahanan rumah hingga akhirnya dijebloskan ke dalam penjara militer.

Durasinya mencapai hampir 10 tahun tanpa proses peradilan yang jelas. Harian Indonesia Raya pun dibredel secara paksa.

Begitu Orde Baru berkuasa, ia kemudian dibebaskan dan Indonesia Raya kembali terbit. Namun, watak kritisnya tidak pernah luntur.

Ia gencar membongkar korupsi masif di Pertamina hingga memicu kemarahan penguasa.

Pasca-Peristiwa Malari 1974, korannya dibredel secara permanen oleh Presiden Soeharto dan ia kembali dijebloskan ke Rutan Nirbaya.

Baca Juga: 10 Jejak Paling Bersejarah Soekarno yang Jarang Terungkap di Bandung

Pemikirannya Tidak Bisa Diubah

Meski raganya berulang kali dikurung, pemikirannya tidak bisa dibungkam.

Pada tahun 1977, melalui pidato kebudayaannya yang sangat ikonik di Taman Ismail Marzuki, ia menelanjangi sifat-sifat hipokrit bangsanya sendiri.

Ia menyebutkan bahwa “Manusia Indonesia” itu munafik, enggan bertanggung jawab, percaya takhayul, hingga berjiwa feodal.

Sebuah tamparan keras yang masih relevan hingga hari ini.

Sepanjang hidupnya, Mochtar Lubis menolak berkompromi. Ia meraih Ramon Magsaysay Award pada tahun 1958.

Namun secara mengejutkan, pada tahun 1995 ia mengembalikan penghargaan tersebut sebagai bentuk protes ideologis.

Baginya, prinsip dan kewarasan jauh lebih berharga daripada sebuah penghargaan.

Baca Juga: 55 Tahun Sejak Tiada, Soekarno Tidak Salah dengan Kata-kata yang Diucapkan

Related Post

Tinggalkan komentar