Sekitarbandung.com – Bakrie Soeraatmadja merupakan seorang tokoh perintis pers nasional Indonesia sekaligus pejuang pergerakan kemerdekaan. Ia dikenal sebagai tokoh kunci dalam pendirian Persatuan Djurnalis Indonesia.
Keberaniannya melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda melalui berbagai tulisan kritis menjadi pemantik semangat pergerakan massa, meskipun perjuangannya membuat dirinya harus mendekam di Penjara Sukamiskin.
Titik Balik dan Perjalanan Hidup
Bakrie Soeraatmadja lahir di Bogor pada 26 Juni 1895. Ia sempat menjadi santri dan buruh pabrik sepatu sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia jurnalistik serta pergerakan.
1. Tahun 1910-an
Menimba ilmu di pesantren dan magang di pabrik sepatu. Setelah itu, ia keluar untuk mencari pekerjaan yang berbasis literasi.
2. Tahun 1912-1913
Menjadi juru tulis desa serta belajar bahasa Belanda secara autodidak agar dapat memahami dokumen-dokumen pemerintahan.
3. Tahun 1915
Kemampuannya dalam berbahasa membuatnya dipromosikan menjadi juru tulis di Distrik Jasinga.
4. Tahun 1916-1917
Bekerja di kantor pengawas keuangan kolonial. Pada masa ini, ia mulai aktif memimpin Sarikat Islam cabang Purwakarta.
5. Tahun 1920-an
Merantau ke Jawa Timur dan menjadi Ketua Paguyuban Pasundan cabang Surabaya. Ia juga kerap mengirimkan tulisan bermuatan politik ke berbagai media.
6. Tahun 1924
Pak Bakrie menjadi kontributor rutin surat kabar Sipatahoenan. Ia pula yang mengusulkan nama Patahoenan.
7. Tahun 1928
Secara resmi ditunjuk menjadi Pemimpin Redaksi Sipatahoenan di bawah naungan Paguyuban Pasundan.
8. Tahun 1930
Memimpin cabang Sipatahoenan di Bandung. Salah satu momen pentingnya adalah meliput persidangan tokoh PNI, termasuk Ir. Sukarno.
9. Tahun 1933
Membidani lahirnya Persatuan Djurnalis Indonesia di Solo.
Baca Juga: Karmila Purba: dari Tong Setan Pasar Malam ke Panggung di Inggris
Karya Krusial dan Momen Monumental
1. Tahun 1924-1925
- Artikel “Ambtenaar djeung Politiek”, yang membahas Pegawai Negeri dan Politik.
- Artikel “Salaris Commissie”, yang mengangkat persoalan ketimpangan upah.
- Artikel “Opendeur Politiek” dan “Rasa Kabangsaan”, yang membahas nasionalisme serta kesadaran politik.
2. Tahun 1930
- Mengubah Sipatahoenan menjadi surat kabar harian.
- Tulisan berkala “Oleh-oleh”, yang berisi catatan sosial politik.
3. Tahun 1933
- Menginisiasi pertemuan antartokoh pers yang kemudian melahirkan Persatuan Djurnalis Indonesia.
4. Tahun 1934
- Menjalani hukuman selama tiga bulan di Penjara Sukamiskin oleh Pemerintahan Hindia Belanda dengan dakwaan Delik Pers karena meloloskan artikel “Ir. Soekarno” yang berisi protes keras terhadap rencana pembuangan Bung Karno.
Perjalanan hidup Bakrie Soeraatmadja menunjukkan bahwa bagaimana dunia jurnalistik dapat menjadi sarana perjuangan dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan menentang ketidakadilan pada masa kolonial.
Melalui tulisan, organisasi, dan keberaniannya menghadapi tekanan pemerintah Hindia Belanda, ia meninggalkan warisan penting bagi perkembangan pers nasional Indonesia serta sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa.
Baca Juga: Mahasiswa ITB Ini Bikin Helm Anti Microsleep untuk Cegah Kecelakaan

