Sekitarbandung.com – Pada tahun 1998-2001 merupakan masa paling kelam bagi tanah Poso, Sulawesi Tengah. Ketegangan politik lokal meledak menjadi konflik horizontal antaragama yang sangat brutal.
Selain itu, ribuan nyawa juga melayang, rumah-rumah ibadah hancur lebur, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Operasi militer silih berganti, namun Poso tetap membara.
Jusuf Kalla Turun Tangan
Di tengah kebuntuan itu, Jusuf Kalla (JK) yang saat itu menjabat sebagai Menko Kesra mengambil langkah berani. Ia tidak hanya mengandalkan pendekatan senjata.
JK memilih turun tangan secara langsung menembus zona merah Poso. Misinya hanya satu, yaitu mempertemukan tokoh-tokoh dari dua kubu yang saling bertikai dalam satu meja.
Inilah untold story-nya. JK menggunakan pendekatan kultural khas Bugis-Makassar yang tegas namun humanis.
Baca Juga: Sutan Syahrir, Arsitek Bangsa yang Dilupakan oleh Bangsanya Sendiri
Ia tidak menggunakan bahasa birokrasi yang kaku, melainkan menginap di barak, mendengar langsung kemarahan para panglima perang dari kedua kubu, dan berdialog dari hati ke hati tanpa pengawalan militer yang berlebihan.
Sejarah Tercipta
Berkat negosiasi maraton yang melelahkan dan penuh risiko, sejarah akhirnya tercipta. Pada 20 Desember 2001, JK berhasil memprakarsai Deklarasi Malino I.
Tokoh-tokoh dari kubu Islam dan Kristen yang bermusuhan akhirnya bersalaman, berpelukan, dan menangis bersama. Konflik berdarah itu resmi diakhiri.
Sejarah perdamaian Poso yang diukir melalui Deklarasi Malino merupakan pengingat betapa mahalnya harga sebuah persatuan.
Namun, di balik tokoh-tokoh besar politik dan rentetan peristiwa historisnya, ada jeritan warga sipil yang harus bertahan hidup.
Baca Juga: Tragedi Poso 1998-2001 Luka Panjang Konflik Komunal di Sulawesi Tengah

