Sutan Syahrir, Arsitek Bangsa yang Dilupakan oleh Bangsanya Sendiri

Sekitarbandung.com – Sutan Syahrir dikenal sebagai Bung Kecil, sosok jenius dengan tinggi sekitar 150 cm yang memiliki peran penting dalam diplomasi Indonesia di PBB pada

Dicky Wicaksono

Sutan Syahrir, Arsitek Bangsa yang Dilupakan oleh Bangsanya Sendiri
Sutan Syahrir, Arsitek Bangsa yang Dilupakan oleh Bangsanya Sendiri

Sekitarbandung.com – Sutan Syahrir dikenal sebagai Bung Kecil, sosok jenius dengan tinggi sekitar 150 cm yang memiliki peran penting dalam diplomasi Indonesia di PBB pada tahun 1947.

Pada tanggal 16 Januari 1962, Syahrir tidak dijemput oleh tentara Belanda. Ia justru ditangkap atas perintah sahabat seperjuangannya dahulu yang kini berkuasa.

Dilempar ke Sel Penjara

Dari gedung perundingan dunia yang megah, Syahrir dilempar ke sel penjara yang pengap di Madiun. Bayangkan bagaimana perasaannya.

Orang yang menghabiskan masa mudanya di penjara Boven Digoel demi kemerdekaan bangsanya, kini harus menghabiskan masa tuanya di penjara oleh bangsa yang turut ia perjuangkan.

Di balik jeruji itu, ia tidak marah, tetapi hanya terdiam dan memendam luka batin yang teramat dalam.

Terserang Stroke

Tiga tahun mendekam di penjara tanpa kejelasan status, tubuh Bung Kecil mulai menyerah. Tekanan batin membuatnya terserang tekanan darah tinggi yang parah.

Hingga pada akhirnya, di dalam sel RTM Budi Utomo Jakarta, ia terserang stroke yang melumpuhkan sebagian tubuhnya.

Lidahnya yang dulu tajam berdiplomasi kini kelu dan sulit berbicara. Sang intelektual itu terbaring lemah, sendirian, dan kesepian.

Ketika kondisinya sudah kritis, barulah pemerintah mengizinkannya berobat ke luar negeri. Bukan sebagai orang bebas, melainkan sebagai tahanan yang sakit.

Baca Juga: Bakrie Soeraatmadja (1895-1974), Sang Perintis Pers Pejuang Kemerdekaan

Mengembuskan Napas Terakhir

Di Zurich, Swiss, jauh dari tanah air yang ia cintai, Syahrir mengembuskan napas terakhirnya pada tanggal 9 April 1966.

Ia wafat dalam kesunyian. Tidak ada kerumunan rakyat dan tidak ada pidato perpisahan.

Statusnya Berubah

Berita kematiannya menampar Jakarta. Pemerintah yang menahannya tersentak mendengar kabar tersebut. Rasa bersalah pun menyeruak.

Seketika itu juga, melalui Keppres No. 76 Tahun 1966, statusnya diubah secara cepat. Pada pagi hari ia meninggal dunia sebagai tahanan politik.

Namun, pada sore harinya ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Ini menjadi penghormatan tertinggi yang datang ketika nyawanya sudah tiada.

Jenazahnya diterbangkan pulang. Jutaan rakyat berbondong-bondong menyambutnya dengan tangis di jalanan Jakarta menuju Kalibata.

Namun semua air mata itu tidak dapat menghapus fakta yang menyakitkan, yaitu bahwa salah satu putra terbaik bangsa ini pernah dibiarkan menjalani akhir hidupnya dalam kesepian dan status sebagai tahanan.

Memenangkan Kemerdekaan

Syahrir pernah berkata, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan”. Ia telah memenangkan kemerdekaan untuk kita semua.

Namun ironisnya, bangsa yang ia bantu merdekakan justru merampas kemerdekaannya pada sisa usianya.

Maafkan kami yang terlambat menghargaimu. Di tanah ini namamu abadi, meski ragamu pernah kami sakiti. Istirahatlah dengan tenang, Bung.

Baca Juga: Kisah Kelam Budiman Sudjatmiko, Pemuda yang Berani Lawan Soeharto

Related Post

Tinggalkan komentar