Sekitarbandung.com – Armenia merupakan negara kecil yang berpenduduk sekitar 3 juta jiwa dan dikenal sebagai negara pertama di dunia yang memasukkan catur ke dalam kurikulum wajib Sekolah Dasar.
Sejak tahun 2011, setiap anak yang berusia 7 hingga 9 tahun wajib belajar catur. Statusnya sama penting dengan pelajaran Matematika atau Bahasa.
Secara kognitif, catur melatih dua sisi otak sekaligus. Anak dipaksa untuk memecahkan masalah spasial yang kompleks, berpikir runut, dan memprediksi probabilitas secara taktis.
Manfaat psikologisnya jauh lebih menarik, yaitu mengajarkan accountability. Saat kalah catur, anak tidak bisa menyalahkan cuaca atau wasit, melainkan murni karena kesalahannya sendiri.
Baca Juga: Rwanda Dianggap sebagai Negara yang Paling Bersih di Benua Afrika
Efek neuroplasticity-nya terbukti secara klinis. Anak-anak yang rutin bermain catur memiliki daya ingat, fokus, dan kontrol emosional yang jauh melampaui rata-rata.
Filosofinya sangat elegan. Pemerintah Armenia tidak berniat mencetak jutaan atlet profesional, melainkan mencetak generasi pemikir strategis untuk menjaga masa depan negara.
Bayangkan satu generasi penuh dengan pemimpin, dokter, insinyur, dan ilmuwan yang sejak kecil sudah terbiasa memikirkan lima langkah antisipasi ke depan sebelum bertindak.
Ketimbang sekadar menghafal buku yang segera dilupakan setelah ujian, melatih anak untuk berpikir kritis di atas papan catur terasa jauh lebih masuk akal.
Baca Juga: Bhutan, Negara yang Menolak untuk Mengukur Kesuksesan dengan Uang

