Sekitarbandung.com – Kalau mendengar Benua Afrika, mungkin yang terbayang adalah daerah yang gersang. Namun, coba lihat Kigali, ibu kota Rwanda. Tingkat kebersihannya bahkan sering dibandingkan dengan kota-kota besar di Eropa.
Tidak ada sampah bertebaran, trotoar mulus, dan taman-tamannya terawat dengan baik. Rahasianya terletak pada sebuah tradisi dan aturan yang sangat ketat bernama “Umuganda”.
Setiap hari Sabtu pada minggu terakhir setiap bulan, seluruh warga diwajibkan keluar rumah dari pukul 08.00 hingga 11.00 pagi untuk melakukan kerja bakti.
Tidak ada yang kebal terhadap aturan ini. Bahkan Presiden Rwanda pun rutin turun ke jalan membawa cangkul dan menyapu bersama warga.
Tradisi ini bukan hanya tentang kebersihan. Umuganda juga menjadi alat psikologis untuk menyatukan kembali warga setelah tragedi genosida yang mengerikan pada tahun 1994.
Baca Juga: Rwanda Sempat Jadi Negara Mati, Sebuah Keajaiban Kepemimpinan Paul Kagame
Kerja bakti massal memaksa mereka untuk saling berinteraksi, melupakan dendam berdarah masa lalu, dan fokus membangun negara dari nol secara gotong royong.
Kebijakan lingkungan mereka juga sangat ketat. Sejak tahun 2008, Rwanda telah melarang total produksi dan penggunaan kantong plastik sekali pakai.
Ketahuan membuang sampah sembarangan atau menyelundupkan kantong plastik? Pelanggar harus siap menghadapi denda jutaan rupiah hingga ancaman hukuman penjara.
Kedisiplinan ini berhasil mengubah wajah Rwanda dari negara yang hancur akibat perang saudara menjadi “Singapura-nya Afrika”.
Menurutmu, mungkinkah tradisi kerja bakti nasional yang wajib seperti Umuganda diterapkan untuk membantu mengatasi darurat sampah di Indonesia?
Baca Juga: Dunia Sudah di Tahun 2026, tetapi Negara Afrika ini Masih Stuck di Tahun 2019

