DLH Kota Bandung Targetkan 6.500 Kompos Pit, Strategi Ampuh Kurangi Sampah Organik

sekitarbandungcom – DLH Kota Bandung menargetkan penyediaan 6.500 kompos pit hingga akhir 2026 untuk mengurangi sampah organik sejak dari sumbernya. Program ini menjadi bagian dari

nathanael gihon

[addtoany]

sekitarbandungcom – DLH Kota Bandung menargetkan penyediaan 6.500 kompos pit hingga akhir 2026 untuk mengurangi sampah organik sejak dari sumbernya.

Program ini menjadi bagian dari penguatan pengelolaan sampah di tengah keterbatasan kapasitas pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

Fasilitas kompos pit direncanakan ditempatkan di tingkat rukun tetangga (RT), sehingga pengolahan sampah dapat dilakukan lebih dekat dengan aktivitas warga.

Pengolahan organik di lingkungan permukiman diharapkan membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pemrosesan akhir.

Efektivitasnya tetap bergantung pada penempatan fasilitas, keterlibatan masyarakat, serta pemeliharaan dan pengoperasian yang tepat.

DLH Kota Bandung Targetkan 6.500 Kompos Pit

Target 6.500 kompos pit yang dibahas dalam laporan Oktober 2026 diarahkan untuk memperluas pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan.

Dengan fasilitas yang tersebar dekat rumah warga, sisa bahan organik dapat dipilah dan diolah tanpa seluruhnya bercampur dengan sampah lain sebelum diangkut.

Kompos pit merupakan lubang atau fasilitas pengomposan untuk menampung dan menguraikan bahan organik.

Penggunaannya memerlukan pemilahan yang benar. Sisa makanan dan bahan organik yang sesuai perlu dipisahkan dari plastik, logam, bahan berbahaya, serta sampah lain yang tidak dapat dikomposkan.

Penerapan di tingkat RT juga membutuhkan koordinasi pengurus lingkungan dan warga. Sosialisasi diperlukan agar masyarakat memahami jenis sampah yang boleh dimasukkan, cara menjaga kebersihan area, serta langkah menghindari bau dan gangguan.

Pengelolaan yang teratur membantu fasilitas tetap berfungsi dan tidak berubah menjadi titik penumpukan sampah.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Bandung 15 Oktober 2026, Kota dan Kabupaten Diprediksi Berawan

Kompos Pit Jadi Upaya Kurangi Sampah Organik dari Sumber

Pengurangan sampah dari sumber menjadi pendekatan penting ketika kapasitas TPA terbatas. Sampah organik yang dipilah dan diolah di lingkungan dapat mengurangi sebagian material yang perlu diangkut.

Meski begitu, kompos pit bukan satu-satunya solusi dan perlu berjalan bersama pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, serta pengolahan jenis sampah lainnya.

Kebijakan ini juga berhubungan dengan program pengelolaan sampah berbasis wilayah, termasuk Gaslah. Laporan mengenai program Gaslah menyebut pengolahan sampah organik mencapai 62 ton per hari.

Angka tersebut merujuk pada capaian program Gaslah, bukan hasil yang dapat langsung dikaitkan dengan target 6.500 kompos pit.

Karena itu, evaluasi program sebaiknya mencatat jumlah fasilitas yang benar-benar terpasang dan berfungsi, partisipasi warga, serta volume organik yang berhasil diolah.

Data terukur membantu pemerintah menilai apakah fasilitas digunakan secara konsisten dan berkontribusi terhadap pengurangan sampah yang dikirim ke TPA.

Baca juga: Jadwal Sholat Kota Bandung dan Sekitarnya 15 Oktober 2026

Kolaborasi Warga Menentukan Keberhasilan Program

Keberhasilan kompos pit tidak hanya ditentukan oleh jumlah fasilitas yang dibangun. Warga perlu membiasakan pemilahan sampah dari rumah, sementara pengelola lingkungan harus memastikan lokasi dan proses pengomposan terjaga.

Pendampingan teknis dan informasi yang mudah dipahami juga dapat membantu mengurangi kesalahan penggunaan.

Pemerintah dan masyarakat dapat saling mendukung melalui pemantauan rutin serta pelaporan kendala.

Jika fasilitas penuh, tidak terawat, atau tidak digunakan, masalah tersebut perlu ditangani agar tujuan pengurangan sampah tidak terhambat. Pengomposan juga perlu dilakukan sesuai panduan teknis supaya hasilnya aman dimanfaatkan.

Target 6.500 kompos pit hingga akhir 2026 perlu diikuti pelaksanaan terukur. Informasi perkembangan sebaiknya membedakan antara target, jumlah fasilitas yang telah dipasang, dan volume sampah yang benar-benar diolah. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat capaian program secara jelas.

Upaya DLH Kota Bandung ini diharapkan memperkuat kebiasaan mengelola sampah organik dari rumah dan lingkungan sekitar.

Dukungan warga, pelaksanaan konsisten, serta evaluasi berbasis data akan menentukan kontribusi kompos pit dalam mengurangi beban TPA Sarimukti.

Selain menyediakan fasilitas, pemerintah perlu memastikan petunjuk penggunaan mudah diakses dan warga mengetahui pihak yang dapat dihubungi ketika muncul kendala.

Pemantauan berkala dapat mencakup kondisi lubang, kebersihan sekitar, serta konsistensi pemilahan. Langkah tersebut membantu menjaga kenyamanan lingkungan dan mencegah fasilitas terbengkalai.

Hasil pemantauan juga dapat menjadi dasar perbaikan program, termasuk menentukan lokasi yang membutuhkan pendampingan tambahan atau penyesuaian pengelolaan secara konsisten di setiap lingkungan warga setempat bersama.

Sumber: koran.pikiran-rakyat.com

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar