sekitarbandungcom – Pengendalian Banjir Bandung dan Cimahi terus diperkuat melalui pembangunan infrastruktur pengendali air di Kota Bandung serta perbaikan saluran drainase di Kota Cimahi.
Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aliran air dan mengurangi risiko genangan, terutama saat curah hujan meningkat.
Program tersebut mencakup pembangunan rumah pompa, drainase baru, kolam retensi, serta revitalisasi 10 titik drainase di Cimahi.
Penanganan di kedua wilayah dilakukan melalui pekerjaan yang berbeda sesuai kebutuhan setempat. Bandung menambah infrastruktur untuk membantu mengelola aliran air, sedangkan Cimahi membenahi saluran yang memerlukan perbaikan.
Pekerjaan ini menjadi bagian dari kesiapan menghadapi musim penghujan dan membutuhkan pemeliharaan serta koordinasi berkelanjutan.
Pengendalian Banjir Bandung Diperkuat dengan Infrastruktur Baru
Pemerintah Kota Bandung membangun dua rumah pompa di kawasan Cipamokolan dan Rancabolang.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk membantu mengendalikan aliran air di lokasi yang membutuhkan dukungan sistem pemompaan.
Setiap rumah pompa dilengkapi dua mesin dengan kapasitas 150 liter per detik per mesin, sebagaimana dijelaskan dalam informasi pemerintah provinsi.
Selain rumah pompa, pembangunan drainase baru sepanjang 3,9 kilometer juga menjadi bagian dari program pengendalian banjir di Bandung pada 2026.
Saluran tersebut diharapkan membantu mengalirkan air dengan lebih baik, terutama ketika hujan deras meningkatkan volume limpasan di kawasan perkotaan.
Pemkot Bandung juga menyiapkan dua kolam retensi, yaitu di Sanggar Hurip dan Ciporeat. Kolam retensi berfungsi menampung air sementara sehingga aliran tidak langsung membebani saluran pada saat volume air meningkat.
Efektivitas infrastruktur ini tetap bergantung pada kondisi saluran, kapasitas tampung, dan pemeliharaan berkala.
Pembangunan berbagai sarana tersebut menunjukkan bahwa pengendalian banjir memerlukan pendekatan terpadu. Rumah pompa, saluran drainase, dan kolam retensi memiliki fungsi yang saling melengkapi.
Namun, keberadaan infrastruktur saja tidak menghilangkan seluruh risiko banjir. Perawatan, pengelolaan sampah, dan kepatuhan terhadap tata ruang juga berperan dalam menjaga kinerja sistem drainase.
Baca juga: Penataan Kabel Udara Bandung Dihentikan 14 Hari, Operator Didesak Pulihkan Internet
Pengendalian Banjir Bandung dan Cimahi melalui Revitalisasi Drainase
Di Kota Cimahi, pemerintah melakukan perbaikan terhadap 10 titik drainase yang tersebar di sejumlah wilayah. Program ini didukung anggaran Rp6 miliar dari APBD 2026.
Pembenahan ditujukan untuk memperbaiki fungsi saluran agar aliran air lebih lancar dan potensi genangan dapat ditekan.
Salah satu lokasi pekerjaan berada di Jalan Raden Demang Hardjakusumah. Pekerjaan di lokasi tersebut masih berlangsung dan ditargetkan selesai pada awal November 2026.
Karena itu, informasi mengenai progres harus dibedakan dari status penyelesaian seluruh pekerjaan. Tidak semua titik dapat dinyatakan selesai apabila masih ada pekerjaan yang berjalan.
Revitalisasi drainase perlu memperhatikan kondisi fisik saluran, sedimentasi, dan hambatan yang dapat mengurangi kapasitas aliran.
Saluran yang telah diperbaiki juga perlu dijaga agar tidak kembali tersumbat oleh sampah atau material lain.
Peran pemerintah, petugas lapangan, dan warga sama-sama diperlukan untuk menjaga fungsi drainase dalam jangka panjang.
Baca juga: Andrea Bocelli Didesak Diboikot, MUI Minta Konser di Indonesia Dibatalkan
Kesiapan Menghadapi Musim Hujan
Pengendalian banjir Bandung dan Cimahi tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemantauan dan pemeliharaan setelah pekerjaan selesai.
Pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan sumbatan atau kerusakan lebih awal, sementara informasi dari warga dapat mendukung penanganan titik yang kerap mengalami genangan.
Warga diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.
Langkah sederhana tersebut membantu menjaga aliran tetap terbuka, meskipun tidak menggantikan kebutuhan pembangunan dan perawatan infrastruktur.
Koordinasi antarpihak juga penting agar penanganan dilakukan sesuai kebutuhan setiap wilayah.
Dengan pembangunan rumah pompa, penambahan drainase, kolam retensi, dan revitalisasi 10 titik saluran di Cimahi, kedua pemerintah daerah berupaya memperkuat kesiapan menghadapi hujan. Perkembangan program dan status pekerjaan perlu terus dipantau melalui kanal resmi pemerintah.
Hasilnya akan bergantung pada penyelesaian pekerjaan sesuai target, pengoperasian infrastruktur, serta pemeliharaan yang konsisten setelah proyek berjalan.
Pelaksanaan program juga perlu disertai komunikasi yang jelas mengenai jadwal pekerjaan dan perubahan akses di sekitar lokasi.
Dengan informasi yang dijangkau, warga dapat menyesuaikan aktivitas serta melaporkan gangguan saluran kepada instansi terkait tanpa menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Sumber: koran.pikiran-rakyat.com

