sekitarbandung.com – Sebagai warga yang cukup sering melewati kawasan Bandung dan sekitarnya, saya sering kali dibuat heran. Mengapa dua kota yang secara geografis nyaris berdempetan, Bandung dan Cimahi, bisa memiliki suasana lalu lintas yang sangat berbeda?
Setiap kali saya hendak ke Lembang melalui Ledeng atau melewati Jalan Setiabudhi, saya nyaris selalu terjebak kemacetan terutama pada hari libur.
Bahkan jika saya masuk lewat Tol Pasteur, macetnya bisa dimulai sejak pintu keluar tol. Belum lagi di titik-titik lain seperti Simpang Soekarno-Hatta, Jalan Riau, atau Jalan Dago. Rasanya seperti uji kesabaran massal yang terus berlangsung setiap hari.
Namun, pengalaman yang sangat kontras saya alami ketika memasuki wilayah Cimahi. Di kota ini, meskipun tidak bisa dibilang sepi, justru saya tidak melihat satu pun lampu merah di beberapa ruas jalan protokol yang saya lewati.
Lalu lintas berjalan lancar dan pengendara tampak saling memahami, saling memberi jalan. Apakah saya salah mengamati? Atau memang ada sistem tak kasatmata yang lebih efektif daripada lampu lalu lintas?
Lampu Merah dan Masalah Kemacetan Bandung
Kemacetan di Kota Bandung bukan hal baru. Bahkan belakangan ini, sorotan terhadap kemacetan Bandung semakin tajam. KDM (Kang Dedi Mulyadi) dalam sebuah wawancara, beliau menyebut bahwa lampu merah justru menjadi penyebab utama kemacetan di Bandung.
Pernyataan ini menyusul pernyataan gubernur Jakarta yang sempat kontroversial tentang kemacetan Bandung, tapi dari pengalaman pribadi saya, ada benarnya juga. Di beberapa titik seperti simpang Soekarno – Hatta – Ibrahim Adjie, durasi lampu merah bisa mencapai 4-5 menit.
Bayangkan antrean kendaraan yang menumpuk selama itu, lalu bayangkan arus sebaliknya kosong namun tak bisa dilewati karena sistem tidak fleksibel. Apakah teknologi pengatur lalu lintas kita justru jadi jebakan?
Saya tidak hendak menyalahkan sistem sepenuhnya, karena lampu lalu lintas tentu dibutuhkan di kota besar. Tapi saat teknologi mengabaikan dinamika situasi di lapangan, hasilnya justru kontraproduktif. Lampu merah seharusnya menjadi solusi, bukan sumber frustrasi.
Cimahi dan Kesadaran Sosial Pengguna Jalan
Yang menarik dari Cimahi adalah tidak adanya lampu merah di beberapa jalur utama, baik di pusat kota maupun kawasan permukiman seperti Graha Bukit Raya 1 Bandung Barat. Tapi justru di situlah kita melihat bagaimana kesadaran sosial warga muncul secara alami.
Di setiap perempatan tanpa lampu merah, pengendara saling melambatkan laju kendaraan, saling menatap, dan memberi jalan. Tidak ada perebutan hak melintas.
Tak ada suara klakson yang memekakkan. Arus lalu lintas tetap berjalan, lancar, dan relatif aman. Di sini saya menyimpulkan: kesadaran kolektif bisa menggantikan sistem elektronik, asalkan budayanya terbentuk.
Bandingkan dengan Bandung, yang hampir di setiap simpang utama memasang lampu merah. Sayangnya, pengendara kadang tak patuh, menabrak marka, atau bahkan menyerobot saat lampu kuning. Akhirnya, sistem yang seharusnya menertibkan malah menimbulkan ketegangan baru.
Mungkinkah Bandung Belajar dari Cimahi?
Tentu tidak semua kondisi lalu lintas di Cimahi bisa diadopsi langsung oleh Bandung. Volume kendaraan, intensitas perlintasan, serta status Bandung sebagai kota metropolitan menuntut sistem manajemen lalu lintas yang lebih kompleks.
Namun, pengalaman Cimahi bisa menjadi inspirasi:
– Apakah seluruh simpang harus dipasang lampu merah?
– Mungkinkah beberapa titik dialihkan ke bundaran atau dibuat sistem putar balik?
– Apakah perlu evaluasi siklus lampu merah agar lebih responsif terhadap arus kendaraan?
-Dan yang terpenting: mampukah Bandung membangun budaya berlalu lintas yang lebih manusiawi?
Solusinya mungkin bukan hanya soal teknologi. Bisa jadi yang kita butuhkan adalah kombinasi: desain lalu lintas yang adaptif, pengawasan lapangan yang aktif, dan edukasi publik yang terus-menerus.
Baca juga : Rp22 Triliun Disiapkan! Gubernur Jabar Beberkan Solusi Tuntas Macet Bandung
Penutup: Dari Sistem ke Kesadaran
Cimahi memberi pelajaran diam-diam: kadang kita terlalu sibuk membangun sistem, hingga lupa membangun kesadaran. Kota kecil ini membuktikan bahwa lalu lintas bisa lancar bukan karena teknologi canggih, tapi karena warga yang mau saling memahami.
Bandung bisa belajar dari ini. Tak harus menghapus semua lampu merah. Tapi setidaknya, kita bisa mulai menata ulang: mana yang benar-benar dibutuhkan, mana yang bisa disederhanakan. Karena pada akhirnya, jalanan bukan soal siapa cepat, tapi soal siapa yang lebih sadar.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

